Peralihan Musim, Flu dan Batuk Mulai Menjamur: Kenapa Mudah Menular?
- 10 Sep 2026 07:08 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Peralihan musim kerap diikuti meningkatnya keluhan flu, batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga demam di tengah masyarakat. Kondisi ini tidak berarti perubahan cuaca secara langsung menyebabkan flu, tetapi perubahan suhu, kelembapan, aktivitas manusia, serta sirkulasi virus dapat memengaruhi pola penyebaran infeksi saluran pernapasan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan virus influenza, terutama tipe A dan B, dengan gejala seperti demam yang muncul tiba-tiba, batuk, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, sakit tenggorokan, dan pilek. Di wilayah tropis seperti Indonesia, influenza dapat beredar sepanjang tahun dengan periode peningkatan yang lebih tidak teratur dibandingkan negara beriklim sedang.
| Baca juga: Polusi Udara, Ancaman bagi Kesehatan Anak |
Penelitian Rory Henry Macgregor Price, Catriona Graham, dan Sandeep Ramalingam yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2019 menganalisis 52.060 sampel pemeriksaan saluran pernapasan di Edinburgh, Skotlandia, selama 2009 hingga 2015. Peneliti menemukan bahwa influenza A dan B, respiratory syncytial virus (RSV), serta beberapa virus pernapasan lainnya memiliki pola musiman yang berkaitan dengan faktor meteorologi, termasuk suhu dan kelembapan.
Penelitian lain yang dilakukan Nicklas Sundell dan tim dan diterbitkan dalam Journal of Clinical Virology pada 2016 juga menganalisis 20.062 sampel usap nasofaring yang diperiksa antara Oktober 2010 hingga Juli 2013. Hasil penelitian menunjukkan suhu rendah dan tekanan uap yang rendah berkaitan dengan peningkatan beberapa infeksi saluran pernapasan, sedangkan penurunan suhu rata-rata secara mendadak pada minggu sebelumnya berkaitan kuat dengan peningkatan kasus influenza A pada minggu berikutnya.
Meski demikian, flu dan batuk tidak selalu disebabkan oleh virus influenza karena berbagai virus lain seperti rhinovirus, RSV, adenovirus, parainfluenza, hingga SARS-CoV-2 dapat menimbulkan gejala yang mirip. CDC menyebutkan bahwa gejala pilek umumnya berupa hidung berair atau tersumbat, batuk, bersin, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan terkadang demam ringan, sementara sebagian besar kasus pilek berlangsung kurang dari satu minggu.
Masyarakat dapat mengurangi risiko penularan dengan rajin mencuci tangan, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, serta tetap berada di rumah ketika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan. WHO juga merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan sebagai langkah utama untuk menurunkan risiko flu dan komplikasinya, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat.
Karena itu, munculnya flu dan batuk saat peralihan musim sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan biasa yang selalu dapat diabaikan, terutama jika gejala semakin berat atau berlangsung lama. Jika disertai sesak napas, nyeri dada, demam tinggi yang menetap, penurunan kesadaran, atau kondisi memburuk, masyarakat perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebab dan penanganan yang tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....