Polusi Udara, Ancaman bagi Kesehatan Anak

  • 05 Sep 2026 15:45 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Polusi udara sering kali dianggap sebagai persoalan lingkungan yang hanya berdampak pada kualitas udara di sekitar tempat tinggal, padahal dampaknya juga dapat dirasakan langsung oleh anak-anak. Sistem pernapasan dan tubuh anak yang masih dalam tahap pertumbuhan membuat mereka menjadi salah satu kelompok yang lebih rentan terhadap paparan berbagai polutan di udara, terutama partikel halus seperti PM2.5.

Sumber polusi udara dapat berasal dari berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari asap kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran sampah, kebakaran, hingga asap dari penggunaan bahan bakar yang menghasilkan polusi di dalam rumah. Partikel PM2.5 menjadi perhatian khusus karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan menembus aliran darah.

Dampaknya bagi anak tidak hanya berupa batuk atau gangguan pernapasan sementara, tetapi juga dapat berkaitan dengan perkembangan paru-paru dan kesehatan dalam jangka panjang. WHO menyebutkan bahwa paparan polusi udara pada anak berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan, penurunan fungsi dan pertumbuhan paru-paru, memburuknya gejala asma, serta dampak terhadap perkembangan otak dan kemampuan kognitif.

Salah satu penelitian yang menunjukkan hubungan tersebut berasal dari Children’s Health Study yang dilakukan terhadap 1.759 anak dan diikuti sejak usia 10 hingga 18 tahun selama delapan tahun. Penelitian tersebut menemukan bahwa paparan sejumlah polutan, termasuk nitrogen dioksida, PM2.5 dan karbon elemental, berkaitan dengan gangguan pertumbuhan FEV1, yaitu salah satu ukuran fungsi paru-paru, setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor pengganggu.

WHO juga melaporkan bahwa pada 2019 sekitar 99 persen populasi dunia tinggal di wilayah yang tingkat polusinya tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO, sementara anak-anak termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap dampak lingkungan tersebut. Dalam laporan WHO mengenai polusi udara dan kesehatan anak, disebutkan bahwa pada 2016 sekitar 93 persen anak di bawah usia 15 tahun atau sekitar 1,8 miliar anak terpapar PM2.5 pada tingkat yang melampaui pedoman kualitas udara WHO.

Melindungi anak dari polusi udara dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan keluarga, seperti menghindari paparan asap rokok, tidak membakar sampah di sekitar rumah, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk, serta memastikan sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik. Orang tua juga dapat membiasakan anak menggunakan perlindungan yang sesuai ketika berada di lingkungan dengan paparan polusi tinggi dan memperhatikan munculnya keluhan seperti batuk, sesak napas, atau gejala asma.

Polusi udara pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan dan masa depan anak-anak yang sedang tumbuh. Upaya menjaga kualitas udara membutuhkan kesadaran bersama dari keluarga, masyarakat, pemerintah, hingga berbagai sektor lainnya agar anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat dan memiliki kesempatan berkembang secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....