Cara Mengetahui Alergi pada Anak, Kenali Gejala dan Pemeriksaannya
- 10 Sep 2026 07:08 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Alergi pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ruam dan gatal pada kulit hingga gangguan pernapasan atau masalah pencernaan setelah terpapar pemicu tertentu. Karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami alergi hanya berdasarkan satu keluhan.
Salah satu petunjuk penting adalah melihat hubungan antara munculnya gejala dengan paparan tertentu, misalnya setelah mengonsumsi makanan, menghirup debu, bersentuhan dengan hewan, atau terkena bahan tertentu. Pada alergi makanan yang dimediasi IgE, misalnya, gejala dapat berupa biduran, pembengkakan, batuk, mengi, muntah, hingga reaksi berat seperti anafilaksis yang dapat muncul dalam waktu relatif cepat setelah makanan dikonsumsi.
Langkah pertama untuk mengetahui alergi bukan langsung melakukan pemeriksaan laboratorium, melainkan mencatat riwayat gejala secara detail bersama tenaga kesehatan. Dokter biasanya akan menanyakan makanan atau zat yang dicurigai, jumlah paparannya, kapan gejala muncul, berapa lama berlangsung, gejala yang menyertai, serta apakah kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.
Pedoman European Academy of Allergy and Clinical Immunology atau EAACI yang diterbitkan pada 2023 merekomendasikan riwayat klinis yang berfokus pada alergi sebagai tahap awal, kemudian pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan skin prick test atau pemeriksaan darah untuk mengetahui antibodi IgE spesifik terhadap alergen yang dicurigai. Pedoman tersebut dipimpin Alexandra F. Santos dari King's College London bersama lebih dari 50 ahli dari berbagai pusat alergi di dunia dan menggunakan pendekatan GRADE dalam menyusun rekomendasinya.
Skin prick test dilakukan dengan memberikan sejumlah kecil ekstrak alergen pada kulit dan melihat apakah muncul reaksi tertentu, sedangkan pemeriksaan darah mengukur kadar IgE spesifik terhadap alergen tertentu. Namun, hasil positif pada kedua pemeriksaan tersebut menunjukkan adanya sensitisasi terhadap suatu alergen dan belum tentu berarti anak benar-benar mengalami alergi, sehingga hasil pemeriksaan harus selalu dibandingkan dengan riwayat gejala dan pemeriksaan dokter.
Jika hasil pemeriksaan belum memberikan jawaban yang jelas, dokter dapat mempertimbangkan oral food challenge atau uji provokasi makanan, terutama pada dugaan alergi makanan. Dalam pedoman EAACI 2023, prosedur ini disebut sebagai standar rujukan untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan dan harus dilakukan dengan pengawasan medis karena anak dapat mengalami reaksi alergi selama proses tersebut.
Orang tua juga perlu berhati-hati terhadap pemeriksaan alergi yang dilakukan secara sembarangan atau menggunakan panel pemeriksaan tanpa indikasi yang jelas karena hasil positif dapat menyebabkan anak menghindari makanan yang sebenarnya masih dapat dikonsumsi. Jika anak mengalami sesak napas, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, sulit menelan, lemas berat, atau gejala yang mengarah pada anafilaksis setelah terpapar pemicu tertentu, anak harus segera mendapatkan pertolongan medis dan tidak hanya mengandalkan pemeriksaan mandiri di rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....