Kenali Gejala dan Penanganan Alergi Obat

  • 15 Sep 2026 17:41 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID,Bengkulu - Obat digunakan untuk membantu mengatasi berbagai kondisi kesehatan. Namun, pada sebagian orang, obat tertentu dapat memicu reaksi yang tidak diharapkan, salah satunya adalah alergi obat.

Melansir dari laman Kemenkes RI aleegi obat adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang muncul ketika tubuh menganggap suatu zat dalam obat sebagai sesuatu yang berbahaya. Alergi obat merupakan salah satu bentuk reaksi hipersensitivitas.

Reaksinya dapat mengenai berbagai bagian tubuh, sehingga keluhan yang muncul pada setiap orang dapat berbeda. Ada yang hanya mengalami gatal atau ruam pada kulit, tetapi pada kondisi tertentu reaksi dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih serius dan membutuhkan pertolongan medis segera.

Perlu diketahui bahwa alergi obat tidak sama dengan efek samping obat. Efek samping umumnya merupakan respons yang sudah dikenal dan dapat terjadi akibat kerja obat, sedangkan alergi melibatkan respons sistem kekebalan tubuh.

Sementara itu, tidak semua keluhan setelah mengonsumsi obat berarti alergi. Beberapa reaksi dapat disebabkan oleh efek farmakologis obat, interaksi antarkomponen obat, penggunaan dosis yang terlalu tinggi, maupun kondisi lain yang tidak berkaitan dengan sistem imun.

Maka dari itu pentingnya untuk berkonsultasi denagn tenaga kesehatan apabila muncul keluhan setelah mengkonsumsi obat. Dengan begitu penyebabnya dapat diketahui dengan tepat.

Merangkum dari laman resmi Kemenkes RI berikut beberapa kelompok obat lebih sering dikaitkan dengan reaksi alergi :

1. Antibiotik, terutama golongan penisilin dan sulfonamida.

2. Obat Antiinflamasi Nonsteroid (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen.

3. Obat antikejang, seperti carbamazepine dan lamotrigin.

4. Obat yang digunakan dalam terapi penyakit autoimun.

5. Obat kemoterapi

Riwayat alergi terhadap suatu obat perlu dicatat dengan baik. Karena informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menentukan pilihan pengobatan yang lebih aman.

Alergi obat dapat terjadi pada siapa saja. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami reaksi terhadap obat, misalnya :

1. Memiliki riwayat alergi lain, seperti rinitis alergi atau alergi makanan.

2. Mempunyai anggota keluarga dengan riwayat alergi obat tertentu.

3. Menggunakan obat tertentu secara berulang atau dalam jangka waktu lama.

4. Menggunakan obat dengan dosis tinggi.

5. Memiliki kondisi atau penyakit tertentu yang dapat berkaitan dengan peningkatan risiko reaksi hipersensitivitas.

Meskipun memiliki faktor risiko tersebut, bukan berarti seseorang pasti akan mengalami alergi obat. Sebaliknya, orang tanpa faktor risiko pun tetap dapat mengalami reaksi alergi.

Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain :

1. Muncul ruam atau kemerahan pada kulit.

2. Gatal-gatal atau bentol seperti biduran.

3. Mata terasa gatal atau berair.

4. Hidung berair atau tersumbat.

5. Pembengkakan pada bibir, wajah, atau lidah.

6. Napas berbunyi atau mengi.

7. Sesak atau kesulitan bernapas.

8. Demam

Sementara itu salah satu reaksi alergi yang paling serius adalah anafilaksis. Kondisi ini dapat berkembang dengan cepat dan merupakan keadaan darurat medis.

Segera cari pertolongan medis apabila setelah menggunakan obat muncul tanda-tanda seperti :

1. Kesulitan bernapas atau sesak berat.

2. Pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.

3. Tekanan darah menurun.

4. Denyut jantung menjadi sangat cepat atau tidak normal.

5. Mual, muntah, kram perut, atau diare.

6. Pusing berat atau kebingungan.

7. Kejang

8. Penurunan kesadaran atau pingsan.

9. Kulit tampak kebiruan.

Penanganan alergi obat bergantung pada jenis dan tingkat keparahan reaksinya. Dokter akan menilai gejala, obat yang digunakan, riwayat kesehatan, serta kondisi pasien sebelum menentukan terapi.

Berikut Beberapa jenis obat dapat digunakan untuk membantu mengatasi reaksi alergi, antara lain :

1. Antihistamin, untuk membantu meredakan gejala seperti gatal dan biduran.

2. Kortikosteroid, pada kondisi tertentu untuk membantu mengendalikan peradangan.

3. Bronkodilator, apabila terdapat gangguan saluran napas tertentu.

4. Epinefrin, yang menjadi terapi utama pada kondisi anafilaksis.

Mengingat reaksi alergi dapat berkisar dari ringan hingga mengancam nyawa, riwayat alergi obat merupakan informasi penting yang perlu disampaikan setiap kali mendapatkan pelayanan kesehatan. Jika setelah menggunakan obat muncul keluhan yang tidak biasa, segera konsultasikan kepada dokter atau tenaga kesehatan.

Terlebih apabila terdapat pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, sesak napas, penurunan kesadaran, atau tanda lain yang mengarah pada anafilaksis. Kenali obat yang digunakan, kenali reaksi tubuh, dan jangan ragu mencari pertolongan medis ketika muncul tanda bahaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....