Membakar Sampah Bukan Solusi, Lalu Apa Cara Mengelola Sampah yang Paling Baik?

  • 10 Sep 2026 07:09 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Membakar sampah masih menjadi kebiasaan sebagian masyarakat karena dianggap sebagai cara cepat untuk mengurangi tumpukan sampah di rumah. Padahal, pembakaran terbuka dapat menghasilkan berbagai polutan udara dan berisiko mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan masyarakat di sekitarnya.

WHO dalam laporan teknis yang diterbitkan pada 2025 menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang buruk, termasuk pembuangan dan pembakaran terbuka, dapat mencemari udara, air, tanah, serta makanan. Pembakaran sampah juga dapat menghasilkan polutan yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga WHO mendorong negara dan pemerintah daerah untuk mengurangi bahkan menghilangkan praktik pembakaran sampah secara terbuka.

Lalu, bagaimana cara mengelola sampah yang lebih baik? Prinsip yang banyak digunakan dalam pengelolaan sampah adalah hierarki pengelolaan sampah, yang menempatkan pencegahan dan pengurangan sampah sebagai pilihan utama, kemudian menggunakan kembali, mendaur ulang, melakukan pemulihan, dan menjadikan pembuangan sebagai pilihan paling akhir.

Artinya, pengelolaan sampah sebaiknya dimulai sejak sebelum sampah terbentuk, misalnya dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan memilih produk yang dapat digunakan berulang kali. Setelah itu, sampah perlu dipilah sejak dari rumah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, plastik, kertas, logam, kaca, serta sampah berbahaya agar masing-masing dapat ditangani dengan metode yang sesuai.

Pemilahan dari sumber juga memiliki dasar penelitian yang cukup kuat, bukan sekadar anjuran lingkungan. Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Resources, Environment and Sustainability pada 2023 menganalisis 279 penelitian mengenai perilaku pemilahan sampah individu dan menemukan bahwa keberhasilan pemilahan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pengetahuan, sikap, norma sosial, fasilitas, serta kemudahan masyarakat dalam melakukan pemilahan.

Untuk sampah organik seperti sisa makanan dan daun, pengomposan dapat menjadi pilihan karena material tersebut dapat diolah kembali menjadi kompos dan tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir. Sementara itu, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi seperti botol plastik, kardus, kertas, logam, dan kaca dapat dikumpulkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang melalui bank sampah maupun fasilitas pengolahan yang tersedia.

UNEP melalui Global Waste Management Outlook 2024 memperkirakan timbulan sampah perkotaan dunia akan meningkat dari sekitar 2,1 miliar ton pada 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada 2050 jika tidak ada perubahan besar dalam sistem pengelolaannya. Karena itu, pengelolaan sampah yang paling baik bukan sekadar mencari cara untuk membuang sampah, melainkan mengurangi sampah sejak dari sumbernya, memilah, menggunakan kembali, mendaur ulang, mengolahnya secara aman, dan hanya membuang residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....