Peralihan Musim, Waspadai ISPA dan Gangguan Pernapasan
- 31 Agt 2026 06:01 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Peralihan musim kerap diikuti perubahan suhu, kelembapan, serta kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Kondisi tersebut tidak berarti setiap pergantian musim pasti menyebabkan lonjakan ISPA, tetapi perubahan lingkungan dan sirkulasi berbagai virus pernapasan membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi tubuh dan kebersihan lingkungan.
ISPA dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk virus influenza, rhinovirus, respiratory syncytial virus atau RSV, hingga virus lainnya yang menyerang saluran pernapasan. WHO dalam laporan Disease Outbreak News pada 7 Januari 2025 menjelaskan bahwa peningkatan infeksi saluran pernapasan akut pada periode tertentu umumnya berkaitan dengan beredarnya berbagai patogen pernapasan secara musiman, termasuk influenza, RSV, human metapneumovirus, dan sejumlah virus lainnya.
| Baca juga: Cara agar Tetap Terhidrasi saat Liburan |
Untuk wilayah tropis seperti Indonesia, pola penyakit pernapasan tidak selalu mengikuti pola musim dingin seperti di negara beriklim sedang. WHO menyebut influenza dapat beredar sepanjang tahun di wilayah tropis dan subtropis, dengan satu atau beberapa periode peningkatan aktivitas, sehingga masyarakat tetap perlu melakukan pencegahan meskipun tidak sedang berada dalam musim hujan atau musim dingin.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah perubahan kondisi lingkungan yang dapat membuat masyarakat lebih sering berada di ruang tertutup atau berkumpul dalam jarak dekat, sehingga penularan virus pernapasan lebih mudah terjadi. WHO merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan, seperti mencuci tangan secara rutin, menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, menggunakan masker di tempat ramai atau ruang dengan ventilasi buruk, serta tetap berada di rumah ketika sedang mengalami gejala ringan agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Kewaspadaan juga perlu diberikan kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi ketika terkena infeksi pernapasan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. WHO mencatat influenza musiman secara global menyebabkan sekitar satu miliar kasus setiap tahun, termasuk tiga hingga lima juta kasus penyakit berat dan sekitar 290 ribu hingga 650 ribu kematian akibat gangguan pernapasan terkait influenza setiap tahunnya.
Data terbaru WHO melalui Global Respiratory Virus Activity tahun 2026 juga menunjukkan bahwa aktivitas virus pernapasan terus dipantau secara global karena tingkat peredarannya dapat berubah dari waktu ke waktu dan berbeda antarwilayah. Dalam pembaruan pekan ke-24 yang berakhir 14 Juni 2026, WHO mencatat aktivitas influenza secara global masih relatif rendah, tetapi beberapa wilayah tropis dan belahan bumi selatan menunjukkan tingkat positif influenza yang lebih tinggi, menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap virus pernapasan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menunggu hingga mengalami sakit untuk mulai menjaga kesehatan selama periode peralihan musim. Menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan seimbang, cukup tidur, rutin mencuci tangan, menjaga ventilasi ruangan, menggunakan masker ketika diperlukan, serta segera memeriksakan diri apabila gejala semakin berat dapat membantu mengurangi risiko penularan dan komplikasi ISPA, terutama pada kelompok rentan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....