Shrimp Posture, Kebiasaan Membungkuk yang Bisa Memicu Nyeri Leher dan Punggung

  • 29 Agt 2026 06:11 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Istilah shrimp posture belakangan digunakan untuk menggambarkan posisi tubuh yang terlalu membungkuk, dengan kepala terdorong ke depan, bahu membulat, dan punggung cenderung melengkung saat duduk atau menggunakan gawai. Posisi ini sering muncul tanpa disadari ketika seseorang terlalu lama bekerja di depan komputer, bermain ponsel, membaca, atau duduk dengan posisi yang tidak ergonomis.

Kebiasaan mempertahankan posisi tersebut dalam waktu lama dapat membuat sejumlah otot bekerja secara tidak seimbang dan memberikan beban tambahan pada leher, bahu, serta punggung. Keluhan yang dapat muncul antara lain pegal, kaku, nyeri leher, sakit pada bahu, hingga nyeri punggung bagian atas dan bawah, terutama jika posisi tersebut dilakukan berulang dan minim jeda bergerak.

Salah satu penelitian yang membahas hubungan postur kepala dengan keluhan leher diterbitkan dalam Current Reviews in Musculoskeletal Medicine pada 2019 oleh Nesreen Fawzy Mahmoud dan tim. Dalam systematic review dan meta-analysis terhadap 15 studi potong lintang, peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang mengalami nyeri leher cenderung memiliki forward head posture lebih besar dibandingkan orang dewasa tanpa keluhan, serta terdapat hubungan antara postur kepala ke depan dengan tingkat nyeri dan disabilitas leher pada kelompok dewasa dan lansia.

Dampak shrimp posture juga dapat berkaitan dengan perubahan kerja otot di sekitar leher dan bahu. Penelitian Jung Won Kwon, Sung Min Son, dan Na Kyung Lee yang diterbitkan dalam Journal of Physical Therapy Science pada 2015 melibatkan 40 orang dengan forward head posture dan bahu membulat, kemudian membandingkan aktivitas otot pada posisi kepala alami, ideal, dan terkoreksi; hasilnya menunjukkan adanya perbedaan aktivitas otot trapezius atas dan serratus anterior pada beberapa posisi kepala.

Penelitian lain oleh Eun-Kyung Kim dan Jin Seop Kim yang diterbitkan pada 2016 juga menunjukkan adanya hubungan antara derajat forward head posture dan gangguan pada leher. Penelitian tersebut melibatkan peserta berusia 19 hingga 24 tahun dan menggunakan craniovertebral angle untuk mengukur posisi kepala, sementara keluhan leher dinilai menggunakan Neck Disability Index; hasilnya menunjukkan bahwa perubahan derajat postur kepala ke depan berkaitan dengan perubahan skor gangguan fungsi leher.

Kebiasaan duduk terlalu lama juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama bagi pekerja kantoran dan orang yang banyak menggunakan komputer atau ponsel. Systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2023 dan mencakup 27 studi dalam analisis kuantitatif menemukan bahwa perilaku sedentari berkaitan dengan peningkatan risiko nyeri leher pada orang dewasa, dengan penggunaan komputer dan telepon seluler juga menunjukkan hubungan dengan keluhan tersebut.

Untuk mengurangi risiko, perbaikan kebiasaan sehari-hari dapat dimulai dengan menjaga layar berada pada posisi yang nyaman, mempertahankan kepala dan leher dalam posisi netral, serta memastikan punggung mendapatkan dukungan saat duduk. Selain itu, jangan mempertahankan satu posisi terlalu lama, lakukan jeda untuk berdiri dan bergerak, serta pertimbangkan latihan penguatan dan peregangan secara teratur; jika nyeri menetap, semakin berat, atau disertai kesemutan maupun kelemahan pada anggota tubuh, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau fisioterapis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....