Glaukoma, Pencuri Penglihatan yang Sering Datang tanpa Gejala
- 31 Jul 2026 19:14 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Glaukoma merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di dunia. Penyakit ini terjadi ketika saraf optik mengalami kerusakan, yang sering kali dipicu oleh tingginya tekanan di dalam bola mata.
Perlu diwaspadai, glaukoma pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala sehingga banyak penderita baru menyadarinya setelah penglihatan mulai terganggu. Oleh karena itu, mengenali faktor risiko dan melakukan pemeriksaan mata secara rutin sangat penting untuk mencegah kehilangan penglihatan permanen.
1. Kenali penyebab dan faktor risiko glaukoma
Glaukoma umumnya terjadi akibat peningkatan tekanan di dalam mata yang merusak saraf optik. Namun, penyakit ini juga dapat muncul meskipun tekanan mata masih dalam batas normal.
Risiko glaukoma lebih tinggi pada orang yang berusia di atas 40 tahun, memiliki riwayat keluarga dengan glaukoma, menderita diabetes, tekanan darah tinggi, rabun jauh atau rabun dekat yang berat. Serta menggunakan obat kortikosteroid dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter.
2. Waspadai gejala yang sering tidak disadari
Pada jenis glaukoma sudut terbuka, penderita sering tidak merasakan keluhan hingga lapang pandang mulai menyempit. Penglihatan samping biasanya berkurang secara perlahan sehingga aktivitas sehari-hari tetap terasa normal.
Sementara itu, glaukoma sudut tertutup dapat muncul secara mendadak dengan gejala seperti nyeri hebat pada mata, mata merah, pandangan kabur, melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu, sakit kepala, mual, hingga muntah. Kondisi ini merupakan keadaan darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.
| Baca juga: Mata Memerah dan Faktor Penyebabnya |
3. Lakukan pemeriksaan mata secara rutin
Karena glaukoma sering berkembang tanpa gejala, pemeriksaan mata menjadi cara terbaik untuk mendeteksinya sejak dini. Dokter mata biasanya akan mengukur tekanan bola mata, memeriksa kondisi saraf optik, menguji lapang pandang, dan melakukan pemeriksaan ketebalan kornea bila diperlukan.
4. Terapkan gaya hidup yang mendukung kesehatan mata
Meski tidak semua kasus glaukoma dapat dicegah, menjaga kesehatan tubuh dapat membantu menurunkan risikonya. Konsumsi makanan bergizi yang kaya vitamin A, C, E, serta antioksidan, rutin berolahraga dengan intensitas ringan hingga sedang.
Mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah, serta menghindari kebiasaan merokok dapat membantu menjaga kesehatan mata. Selain itu, gunakan pelindung mata saat bekerja atau berolahraga untuk mengurangi risiko cedera yang dapat memicu gangguan pada mata.
5. Patuhi pengobatan jika sudah didiagnosis
Glaukoma tidak dapat disembuhkan, tetapi perkembangannya dapat diperlambat dengan pengobatan yang tepat. Dokter biasanya memberikan obat tetes mata untuk menurunkan tekanan bola mata.
Pada kondisi tertentu, pasien mungkin memerlukan terapi laser atau tindakan operasi untuk menjaga aliran cairan mata tetap normal. Sangat penting bagi penderita untuk menggunakan obat sesuai jadwal dan tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter karena kerusakan saraf optik yang telah terjadi umumnya tidak dapat dipulihkan.
Glaukoma dikenal sebagai "pencuri penglihatan" karena sering berkembang tanpa gejala hingga kerusakan mata sudah cukup berat. Pemeriksaan mata secara rutin, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko, menjadi langkah paling efektif untuk mendeteksi penyakit ini sejak dini.
Sumber : National Eye Institute – Panduan deteksi dini dan pencegahan glaukoma.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....