Respons Tubuh saat Terlalu Banyak Mengonsumsi Makanan Ultra Proses

  • 30 Jul 2026 22:09 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF) semakin akrab dalam kehidupan modern karena praktis, tahan lama, dan mudah diperoleh. Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang, tubuh dapat memberikan berbagai respons yang menjadi sinyal awal terganggunya kesehatan, mulai dari perubahan metabolisme hingga meningkatnya risiko penyakit kronis.

Salah satu respons pertama yang sering muncul adalah rasa lapar yang lebih cepat meski baru saja makan. Hal ini terjadi karena sebagian besar makanan ultra proses mengandung kalori tinggi, tetapi rendah serat dan protein sehingga kurang memberikan rasa kenyang yang bertahan lama, sementara kandungan gula sederhana menyebabkan kadar gula darah naik dan turun dengan cepat.

Tubuh juga dapat mengalami peningkatan peradangan kronis tingkat rendah (low-grade inflammation) akibat pola konsumsi makanan ultra proses yang tinggi. Penelitian yang dipublikasikan dalam The BMJ pada 2024 melalui tinjauan sistematis dan meta-analysis terhadap hampir 10 juta partisipan menemukan bahwa konsumsi makanan ultra proses berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, hingga kematian akibat berbagai penyebab.

Selain memengaruhi metabolisme, makanan ultra proses juga dapat mengganggu kesehatan saluran pencernaan. Kandungan serat yang rendah serta berbagai zat aditif seperti pengemulsi dan pemanis buatan diduga dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus, padahal bakteri baik di dalam usus memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh, proses pencernaan, dan kesehatan metabolik.

Penelitian yang dilakukan Kevin D. Hall bersama tim dari National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat, dan dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism pada 2019 menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan ultra proses secara bebas mengonsumsi sekitar 500 kilokalori lebih banyak per hari dibandingkan saat mengonsumsi makanan minim proses. Akibatnya, berat badan mereka meningkat hanya dalam waktu dua minggu, meskipun jumlah kalori yang disediakan dalam kedua pola makan telah disesuaikan.

Dampak lain yang mulai banyak diteliti adalah pengaruh makanan ultra proses terhadap kesehatan otak dan suasana hati. Sejumlah penelitian observasional menemukan bahwa konsumsi makanan ultra proses dalam jumlah tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, gangguan tidur, hingga penurunan fungsi kognitif, meskipun hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti lebih lanjut.

Para ahli menegaskan bahwa sesekali mengonsumsi makanan ultra proses bukan berarti langsung membahayakan kesehatan. Namun, apabila makanan jenis ini menjadi menu utama setiap hari, tubuh akan terus menerima asupan gula, garam, lemak, dan zat aditif dalam jumlah tinggi yang dapat mempercepat munculnya berbagai gangguan kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi makanan segar seperti buah, sayur, biji-bijian utuh, ikan, dan sumber protein alami agar tubuh memperoleh nutrisi yang lebih seimbang dan tetap sehat dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....