Paradox Vitamin D: Mengapa Sudah Rutin Berjemur tapi Masih Defisiensi?
- 22 Jun 2026 21:38 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Menghabiskan waktu di bawah terik matahari pagi sering kali dianggap sebagai tiket gratis untuk memenuhi kebutuhan vitamin D tubuh. Namun, belakangan ini para ahli kesehatan menemukan sebuah paradoks: banyak orang yang mengaku sudah rutin berjemur, tetapi hasil tes darahnya tetap menunjukkan kadar vitamin D yang rendah (defisiensi).
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata, memproduksi vitamin D dari sinar matahari tidak sesederhana "asal terkena panas". Ada banyak faktor biologis, lingkungan, hingga kebiasaan yang tanpa sadar memblokir proses sintesis vitamin D di kulit.
Berikut adalah faktor-faktor utama penyebab mengapa rutin berjemur belum tentu cukup bebas dari defisiensi vitamin D, lengkap dengan penjelasan ilmiahnya:
| Baca juga: Manfaat Wortel untuk Kesehatan |
1. Salah Memilih Jam Berjemur (UVA vs. UVB)
Banyak orang memilih berjemur pada jam 6 atau 7 pagi karena udaranya masih sejuk. Sayangnya, pada jam-jam tersebut, sinar matahari yang dominan adalah UVA, bukan UVB.
- Sinar UVB adalah satu-satunya gelombang cahaya yang memicu kulit untuk memproduksi vitamin D. Sinar UVB biasanya baru optimal saat posisi matahari mulai meninggi (sekitar jam 09.00 hingga 11.00 pagi, tergantung lokasi geografis).
- Berjemur terlalu pagi hanya akan membuat kulit terpapar UVA yang memicu penuaan dini (aging) tanpa memberikan asupan vitamin D yang memadai.
2. Penggunaan Sunscreen dan Pakaian Tertutup
Kesadaran akan kesehatan kulit membuat banyak orang tidak lepas dari sunscreen (tabir surya) sebelum keluar rumah.
- Sunscreen dengan SPF 30 atau lebih tinggi dapat memblokir hingga 95%–98% sinar UVB.
- Selain itu, jika Anda berjemur dengan pakaian lengkap yang menutupi lengan dan kaki, area kulit yang terpapar menjadi terlalu sempit. Tubuh membutuhkan setidaknya 15–20% permukaan kulit (seperti lengan dan tungkai kaki) yang terpapar langsung tanpa penghalang untuk memproduksi vitamin D secara optimal.
3. Faktor Melanin (Warna Kulit)
Makin gelap warna kulit seseorang, makin tinggi pula kandungan melanin di dalamnya. Melanin berfungsi sebagai pelindung alami kulit dari efek buruk ultraviolet, tetapi zat ini juga bertindak sebagai "benteng" yang menyerap sinar UVB. Akibatnya, orang dengan kulit lebih gelap membutuhkan waktu berjemur 2 hingga 3 kali lebih lama dibandingkan orang berkulit terang untuk menghasilkan jumlah vitamin D yang sama.
4. Polusi Udara yang Tinggi
Bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar dengan tingkat polusi tinggi, partikel polutan dan kabut asap di atmosfer dapat memantulkan serta menyerap sinar UVB sebelum mencapai permukaan bumi. Hal ini membuat efektivitas berjemur di area urban menurun drastis.
5. Gangguan Penyerapan dan Fungsi Organ (Hati & Ginjal)
Sinar matahari tidak langsung memberikan vitamin D siap pakai. Matahari hanya mengubah kolesterol di kulit menjadi pro-vitamin D3. Tubuh masih membutuhkan hati (lever) dan ginjal yang sehat untuk mengubahnya menjadi bentuk aktif ($25(OH)D$ dan kemudian $1,25(OH)_2D$). Jika seseorang memiliki masalah fungsi hati, gangguan ginjal, atau masalah pencernaan (seperti penyakit Celiac atau Crohn) yang mengganggu penyerapan lemak, maka kadar vitamin D dalam tubuh akan tetap drop.
Sumber
1. Mengenai Blokir UVB oleh Sunscreen & Waktu Berjemur: "Sintesis vitamin D di kulit sangat bergantung pada indeks ultraviolet (UVB). Penggunaan tabir surya dengan SPF 30 mengurangi kapasitas sintesis vitamin D di kulit sebesar 95% hingga 98%. Selain itu, paparan radiasi UVB paling efektif adalah saat matahari berada tepat di atas kepala (mid-day)."
— Harvard T.H. Chan School of Public Health / Jurnal Anticancer Research.
2. Mengenai Proses Perubahan Vitamin D di Organ Tubuh: "Vitamin D yang diperoleh dari paparan sinar matahari atau makanan bersifat biologis tidak aktif. Ia harus melalui dua proses hidroksilasi di dalam tubuh untuk aktivasi, pertama di hati menjadi 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D], dan kedua di ginjal menjadi 1,25-dihydroxyvitamin D [1,25(OH)2D]."
— National Institutes of Health (NIH) Dietary Supplement Fact Sheets.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....