Mengapa Ada Orang yang Selalu Merasa Tersakiti? Ini Penjelasan Psikolog
- 16 Mei 2026 13:32 WIB
- Bengkulu
Poin Utama
- Menjaga Kesehatan Mental itu Penting
- Pengalaman Masa lalu dapat Muncul Kembali sebagai Pemicu Emosional
RRI.CO.ID, Bengkulu - Perasaan tersakiti merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang pernah mengalaminya, baik karena perkataan, sikap, maupun situasi yang tidak sesuai harapan. Namun, ada sebagian orang yang tampak lebih sering merasa terluka, bahkan dalam kondisi yang bagi orang lain terlihat biasa saja.
Dalam kajian psikologi, kondisi ini tidak bisa disederhanakan sebagai sikap “terlalu baper”, melainkan berkaitan dengan dinamika emosi, pengalaman hidup, serta cara seseorang memaknai situasi di sekitarnya. Pola asuh masa kecil juga sangat berperan dalam membentuk ketahanan emosi seseorang ketika ia dewasa.
Sejumlah psikolog menjelaskan bahwa salah satu faktor utama adalah kondisi harga diri yang rentan. Ketika seseorang memiliki kepercayaan diri yang belum stabil, kritik atau komentar sederhana dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap dirinya. Hal ini membuat respons emosional menjadi lebih kuat, karena yang tersentuh bukan hanya situasi yang terjadi, tetapi juga identitas diri yang merasa dipertanyakan. Dalam konteks ini, rasa tersakiti muncul bukan semata karena ucapan orang lain, melainkan karena makna yang dilekatkan pada ucapan tersebut.
Selain itu, psikologi kognitif mengenal konsep pola pikir atau skema kognitif, yaitu cara seseorang memandang dunia berdasarkan pengalaman dan keyakinannya. Jika seseorang terbiasa berpikir bahwa orang lain cenderung menyakiti atau tidak menghargainya, maka ia akan lebih mudah menafsirkan berbagai situasi secara negatif.
Sebuah pesan yang tidak dibalas, misalnya, bisa dianggap sebagai bentuk penolakan, padahal belum tentu demikian. Cara berpikir seperti ini secara tidak langsung memperkuat perasaan tersakiti yang terus berulang.
Pengalaman masa lalu juga memiliki peran besar dalam membentuk sensitivitas emosi. Individu yang pernah mengalami penolakan, pengabaian, atau bahkan trauma emosional cenderung memiliki luka batin yang belum sepenuhnya pulih.
Dalam kondisi tertentu, pengalaman masa lalu tersebut dapat muncul kembali sebagai pemicu emosional. Ketika menghadapi situasi yang mirip, tubuh dan pikiran merespons seolah-olah kejadian lama terulang kembali, sehingga reaksi yang muncul terasa lebih intens dibandingkan situasi sebenarnya.
Dalam beberapa kasus, psikolog juga menyoroti adanya kecenderungan seseorang untuk menempatkan diri sebagai korban atau yang dikenal dengan istilah playing victim. Pola ini sering kali berkembang sebagai mekanisme pertahanan diri. Ketika seseorang merasa tidak mampu menghadapi tekanan atau kritik, ia cenderung mencari perlindungan emosional dengan menganggap dirinya selalu disakiti. Sikap ini bukan berarti dibuat-buat, melainkan merupakan cara bawah sadar untuk menghindari rasa tidak nyaman atau luka yang lebih dalam.
Kondisi mental dan fisik juga memengaruhi cara seseorang merespons situasi. Ketika seseorang berada dalam keadaan lelah, stres, atau terbebani, kemampuan untuk mengelola emosi akan menurun. Akibatnya, respons terhadap hal-hal kecil menjadi lebih berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa sensitivitas emosional tidak hanya dipengaruhi oleh kepribadian, tetapi juga oleh kondisi psikologis yang sedang dialami.
| Baca juga: Cara agar Tetap Terhidrasi saat Liburan |
Lebih jauh, kemampuan dalam mengelola emosi atau regulasi emosi menjadi faktor penting. Tidak semua orang memiliki keterampilan ini secara alami. Tanpa kemampuan mengelola emosi dengan baik, seseorang cenderung bereaksi secara spontan dan memperbesar masalah yang dihadapi. Situasi yang seharusnya bisa disikapi secara tenang justru berkembang menjadi pengalaman yang menyakitkan.
Dari perspektif psikologi, orang yang sering merasa tersakiti bukan berarti lemah. Mereka mungkin sedang menghadapi kombinasi antara pengalaman masa lalu, pola pikir yang belum sehat, serta kemampuan pengelolaan emosi yang perlu ditingkatkan. Memahami hal ini menjadi langkah awal yang penting, karena dengan kesadaran tersebut seseorang dapat mulai belajar mengelola emosinya dengan lebih baik.
Pada akhirnya, rasa tersakiti dapat menjadi sinyal bahwa ada bagian dalam diri yang membutuhkan perhatian. Dengan memahami akar penyebabnya, seseorang tidak hanya dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan, tetapi juga berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat dan matang secara emosional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....