Menag: Masjid Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Umat dan Perdamaian
- 04 Agt 2026 09:15 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Menurutnya, peran masjid perlu terus diperluas agar mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial, kemanusiaan, hingga pembangunan bangsa.
Dikutip dari laman Kementerian Agama, pada Selasa, 4 Agustus 2026, pernyataan tersebut disampaikan Menag dalam kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Ia menekankan bahwa masjid seharusnya menjadi institusi yang aktif memberdayakan umat melalui berbagai program pelayanan dan penguatan masyarakat.
Menag menjelaskan bahwa transformasi fungsi masjid telah mulai diterapkan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan lebih dari 6.000 masjid sebagai posko pelayanan masyarakat selama arus mudik, sehingga kehadiran masjid dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Mari kita fungsikan masjid-masjid di Indonesia sebagai contoh. Sekarang masjid memiliki fungsi baru yaitu posko mudik, 6.000-an masjid menjadi posko mudik,” katanya.
Menurut Menag, perluasan fungsi tersebut sejalan dengan teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW pada masa awal Islam. Saat itu, masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan penyelesaian berbagai persoalan umat.
“Kita lihat masjidnya Rasulullah berfungsi sebagai sekretariat negara. Semua persoalan-persoalan pemerintahan diselesaikan di masjid. Jadi masjid itu adalah rumah besar untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Menag menilai imam masjid memiliki peran yang semakin strategis. Selain memimpin ibadah, imam juga diharapkan mampu menggerakkan fungsi sosial masjid sehingga menjadi pusat pelayanan, pemberdayaan masyarakat, dan penyebaran nilai-nilai perdamaian.
Semangat itu, lanjut Menag, menjadi salah satu tujuan penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang akan digelar di Jakarta pada September mendatang. Konferensi tersebut diharapkan menjadi wadah memperkuat jejaring antarimam dari berbagai negara sekaligus berbagi pengalaman dalam pengelolaan masjid.
“Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia,” kata Menag mengakhiri.
Menag menyebut IGIC 2026 ditargetkan menghadirkan sekitar 400 imam besar dari berbagai negara. Sejumlah tokoh agama dunia, termasuk Imam Masjidil Haram, Syekh Abdurrahman As-Sudais, Grand Syekh Al-Azhar, serta para imam dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea, dan negara lainnya juga diundang untuk berpartisipasi dalam forum internasional tersebut sebagai upaya memperkuat kolaborasi dan peran masjid dalam membangun perdamaian global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....