Mengajarkan Anak Bicara Santun, Dimulai dari Cara Kita Menyapanya
- 02 Okt 2026 22:18 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Mendengar anak tiba-tiba mengucapkan kata kasar bisa membuat orang tua kaget, malu, atau langsung ingin menegur. Apalagi jika kata itu keluar di depan keluarga besar atau ketika sedang berada di tempat umum.
Namun, sebelum buru-buru menyebut anak nakal, ada baiknya mencari tahu apa yang terjadi. Bisa saja ia sedang meniru ucapan yang didengar, mencoba memahami sebuah kata, atau belum tahu cara menyampaikan kekesalannya.
Mengajarkan bahasa santun membutuhkan contoh dan latihan dalam percakapan sehari-hari. Anak perlu dibantu memahami cara meminta sesuatu, menolak, dan mengungkapkan perasaan tanpa merendahkan orang lain.
Orang tua bisa memulai dengan membiasakan kata “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf” ketika berbicara kepada anak. Kebiasaan tersebut juga perlu hadir saat berbicara dengan pasangan, anggota keluarga, maupun orang lain.
Misalnya, ketika meminta anak membereskan mainan, gunakan kalimat, “Tolong masukkan mainannya ke kotak, ya.” Setelah selesai, ucapkan terima kasih agar anak melihat bagaimana bahasa yang menghargai digunakan dalam situasi nyata.
Perhatian terhadap cara orang tua berbicara juga memiliki dasar penelitian psikologi. Studi Ming-Te Wang dan Sarah Kenny dalam jurnal Child Development pada 2014, yang melibatkan 976 keluarga dengan anak remaja, menemukan bahwa disiplin verbal yang keras pada usia 13 tahun memprediksi peningkatan masalah perilaku dan gejala depresi hingga usia 14 tahun.
Penelitian tersebut bersifat pengamatan, sehingga tidak membuktikan bahwa ucapan keras menjadi satu-satunya penyebab masalah pada anak. Namun, hasilnya menjadi pengingat bahwa cara menegur patut diperhatikan, terutama ketika teguran melibatkan bentakan atau penghinaan.
Ketika anak berkata kasar, arahkan teguran pada kata atau perilaku yang perlu diperbaiki. Hindari sebutan seperti “anak jahat” atau “anak tidak tahu sopan santun”, lalu jelaskan batasnya dengan kalimat singkat.
Orang tua dapat mengatakan bahwa kata tersebut bisa menyakiti orang lain dan meminta anak menyampaikan maksudnya kembali. Dengan begitu, anak mendapatkan arahan tentang apa yang perlu dilakukan setelah ditegur.
Saat suasana sedang panas, usahakan memberi jeda sebelum berbicara panjang lebar. Setelah anak lebih tenang, ajak ia membicarakan apa yang membuatnya kesal dan bagaimana mengatakannya dengan lebih baik.
Saat marah, anak membutuhkan pilihan kalimat yang dapat digunakan untuk menjelaskan keadaan dirinya. Orang tua bisa mengenalkan ungkapan sederhana seperti “Aku kecewa”, “Aku belum mau”, atau “Aku butuh bantuan”.
Misalnya, ketika anak menghina temannya karena mainannya diambil, akui terlebih dahulu bahwa ia merasa kesal. Setelah itu, bantu ia menggunakan kalimat pengganti, seperti “Aku masih memakainya, tolong kembalikan”.
Pendekatan ini dekat dengan emotion coaching, yaitu mendampingi anak mengenali emosi dan belajar meresponsnya. Penelitian Sophie Havighurst dan rekan-rekannya dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry pada 2010 menguji program pengasuhan Tuning in to Kids dengan melibatkan 216 orang tua atau pengasuh utama anak usia empat hingga hampir enam tahun.
Dibandingkan kelompok yang menunggu program, kelompok peserta menunjukkan perbaikan dalam pendampingan emosi, sementara pengetahuan emosi anak meningkat dan masalah perilakunya berkurang berdasarkan laporan orang tua serta guru. Penelitian ini tidak secara khusus menguji kebiasaan berkata kasar, tetapi mendukung pentingnya membantu anak memahami perasaan sebagai bagian dari pembelajaran perilaku.
Latihan bahasa santun bisa dilakukan ketika bermain, membaca cerita, atau membicarakan kejadian di sekolah. Orang tua dapat mengajak anak mencoba cara meminta giliran, meminjam barang, atau menyampaikan ketidaksetujuan.
Untuk anak kecil, gunakan contoh pendek yang mudah diulang, seperti “Boleh aku pinjam?” atau “Tolong berhenti”. Untuk anak yang lebih besar, ajak berdiskusi tentang bagaimana pilihan kata dan nada bicara dapat memengaruhi perasaan lawan bicara.
Ketika anak berhasil menyampaikan kekesalan tanpa menghina, berikan apresiasi yang menyebutkan perilakunya secara jelas. Misalnya, katakan bahwa orang tua menghargai usahanya menjelaskan perasaan dan meminta mainannya kembali dengan baik.
Coba tanyakan dengan tenang dari mana anak mendengar kata yang diucapkannya. Pertanyaan tersebut membantu orang tua memahami konteks, tanpa langsung menyalahkan teman, sekolah, atau tontonan tertentu.
| Baca juga: Main Masak-Masakan, Anak Belajar Banyak Hal |
Jika kata itu muncul dalam video atau permainan, orang tua dapat mendampingi dan membicarakan maknanya sesuai usia anak. Jelaskan bahwa sesuatu yang terdengar lucu dalam tontonan bisa membuat orang lain terluka ketika digunakan untuk mengejek.
Aturan tentang bahasa juga sebaiknya disepakati bersama orang dewasa yang sering berinteraksi dengan anak. Hindari menertawakan ucapan kasar pada satu kesempatan, lalu menghukumnya pada kesempatan lain, karena anak membutuhkan batas yang jelas.
Anak perlu memahami bahwa ia boleh menyampaikan ketidaksetujuan, meminta jarak, dan mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman. Orang tua dapat melatih kalimat seperti “Aku tidak suka dipanggil begitu” atau “Tolong jangan sentuh aku”.
Ketika anak mengatakan tidak nyaman, dengarkan alasan dan bantu ia menentukan langkah berikutnya. Dengan cara ini, pembelajaran kesantunan berjalan bersama kemampuan menjaga batas diri.
Orang tua pun mungkin sesekali kehilangan kesabaran dan mengucapkan sesuatu yang kurang tepat. Saat itu terjadi, akui kesalahan, minta maaf, dan tunjukkan bagaimana kalimat tersebut bisa diperbaiki.
Mengajarkan bahasa santun merupakan proses yang membutuhkan pengulangan dan kesabaran. Setiap percakapan yang hangat memberi anak kesempatan untuk belajar bahwa perasaannya boleh disampaikan, sementara orang lain tetap perlu dihargai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....