Main Masak-Masakan, Anak Belajar Banyak Hal
- 09 Sep 2026 16:31 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Bermain masak-masakan sering dianggap sebagai permainan sederhana yang hanya bertujuan membuat anak merasa senang, terutama ketika dilakukan oleh anak perempuan. Padahal, permainan ini termasuk bentuk pretend play atau bermain peran yang dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengembangkan imajinasi, kemampuan berbahasa, keterampilan sosial, hingga belajar memahami berbagai aktivitas yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Saat bermain masak-masakan, anak biasanya meniru kegiatan orang dewasa seperti menyiapkan makanan, mencuci bahan, menggunakan peralatan dapur mainan, hingga menyajikan makanan kepada orang lain. Dari aktivitas tersebut, anak sebenarnya sedang belajar membuat cerita, menentukan peran, mengambil keputusan sederhana, serta menggunakan benda-benda di sekitarnya secara kreatif sesuai dengan imajinasi mereka.
Permainan ini juga dapat membantu mengembangkan kemampuan komunikasi anak karena mereka terdorong untuk berbicara ketika berpura-pura menjadi koki, penjual makanan, ibu, atau anggota keluarga lainnya. American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa pretend play dapat mendukung perkembangan bahasa, kemampuan mengatur diri, berpikir simbolis, serta perkembangan sosial dan emosional anak.
Penelitian mengenai hubungan pretend play dengan kemampuan anak juga terus berkembang, termasuk meta-analisis yang diterbitkan dalam Developmental Review pada 2026. Penelitian tersebut menganalisis 26 studi dengan total 2.915 anak berusia 12–72 bulan dan menemukan hubungan positif yang signifikan antara pretend play dan fungsi eksekutif, dengan korelasi r=0,17, meskipun peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
| Baca juga: Anak Sering Menangis Bukan Berarti Cengeng |
Masak-masakan juga dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bekerja sama ketika permainan dilakukan bersama saudara, teman, atau orang tua. Anak dapat belajar berbagi peralatan, menentukan siapa yang menjadi koki atau pembeli, menunggu giliran, mengikuti aturan permainan, serta menyelesaikan perbedaan pendapat melalui komunikasi. Penelitian yang diterbitkan dalam Educational Psychology Review pada 2024 bahkan menganalisis 34 studi empiris dan menemukan adanya hubungan positif antara pretend play dan kompetensi sosial pada anak usia 3–8 tahun.
Menariknya, permainan masak-masakan tidak harus dibatasi sebagai permainan untuk anak perempuan karena keterampilan yang dilatih di dalamnya dibutuhkan oleh semua anak. Orang tua dapat memberikan kesempatan yang sama kepada anak laki-laki maupun perempuan untuk bermain memasak, karena tujuan utamanya bukan mengajarkan peran berdasarkan jenis kelamin, melainkan memberikan ruang bagi anak untuk berimajinasi, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan mengenal berbagai aktivitas kehidupan.
Orang tua juga tidak perlu membeli perlengkapan mainan yang mahal untuk menghadirkan permainan ini di rumah. Dengan menggunakan peralatan mainan yang aman atau benda sederhana yang sesuai usia anak, orang tua dapat ikut bermain sambil mengajukan pertanyaan seperti “Hari ini mau masak apa?”, “Bahan yang dibutuhkan apa saja?” atau “Siapa yang akan makan masakan ini?” sehingga permainan masak-masakan menjadi aktivitas menyenangkan sekaligus kesempatan bagi anak untuk belajar dan berkembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....