Belajar Merasa Cukup di tengah Hidup yang Selalu Meminta Lebih
- 03 Okt 2026 05:02 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Ada hari ketika hidup sebenarnya berjalan cukup baik, kita masih bisa makan dengan tenang, menyelesaikan pekerjaan, dan berbincang dengan orang yang disayangi. Namun, setelah beberapa menit melihat media sosial, semua itu mendadak terasa kurang.
Ada teman yang membeli rumah, mendapat pekerjaan baru, atau berlibur ke tempat yang selama ini hanya masuk daftar keinginan. Kita pun mulai bertanya dalam hati, mengapa hidup sendiri terasa begini-begini saja?
Padahal, sebelum melihat kehidupan orang lain, kita tidak merasa begitu tertinggal. Perasaan kurang muncul ketika ukuran keberhasilan kita bergeser, mengikuti apa yang sedang dimiliki orang lain.
Di tengah keadaan seperti ini, belajar menjadi manusia yang merasa cukup terasa seperti memberi ruang bernapas. Kita tetap bisa memiliki keinginan, sambil mengakui bahwa kehidupan hari ini juga menyimpan sesuatu yang layak dihargai.
Ketika Pencapaian Menjadi Ukuran Harga Diri
Keinginan untuk memiliki penghasilan lebih baik, rumah nyaman, atau pekerjaan yang menjanjikan sangat manusiawi. Semua itu dapat membantu kita memenuhi kebutuhan dan merasa lebih aman dalam menjalani kehidupan.
Namun, melelahkan rasanya apabila setiap pencapaian selalu diikuti tuntutan baru. Kita sudah berjalan jauh, tetapi tidak pernah memberi diri sendiri kesempatan untuk menikmati hasilnya.
Penelitian Tim Kasser dan Richard M. Ryan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 1993 menemukan bahwa menempatkan keberhasilan finansial sebagai tujuan yang lebih dominan dibandingkan nilai hidup lainnya berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Temuan dari tiga studi tersebut menunjukkan hubungan, sehingga tidak bisa langsung disimpulkan bahwa keinginan menjadi kaya menyebabkan seseorang tidak bahagia.
Dalam keseharian, penelitian tersebut dapat menjadi bahan renungan tentang tempat yang kita berikan kepada uang dan pencapaian. Apakah keduanya membantu kehidupan kita, atau sudah menjadi ukuran utama untuk menentukan seberapa berharga diri kita?
Ketika seluruh harga diri digantungkan pada gaji, jabatan, atau barang yang dimiliki, kita mudah merasa gagal meskipun sudah berusaha keras. Padahal, hubungan yang hangat, kesempatan belajar, waktu beristirahat, dan kehadiran kita bagi orang lain juga memiliki nilai.
Memberi Perhatian pada yang Sudah Ada
Merasa cukup dapat dimulai dengan memperhatikan hal-hal yang selama ini luput karena terasa biasa. Makanan hangat setelah hari panjang, teman yang bersedia mendengarkan, atau keberanian untuk mencoba lagi bisa menjadi sesuatu yang kita hargai.
Dalam psikologi, kebiasaan mengenali dan menghargai hal baik ini dekat dengan konsep gratitude, atau rasa syukur. Kita memberi perhatian kepada hal yang sudah hadir, sambil tetap mengakui adanya kesulitan dan kebutuhan yang belum terpenuhi.
Penelitian Wenceslao Unanue dan rekan-rekannya dalam Frontiers in Psychology pada 2019 menemukan hubungan timbal balik antara rasa syukur dan kepuasan hidup melalui dua studi yang mengikuti peserta dari waktu ke waktu. Rasa syukur yang lebih tinggi memprediksi kepuasan hidup yang lebih tinggi pada pengukuran berikutnya, dan demikian pula sebaliknya, meskipun penelitian pengamatan ini belum memastikan hubungan sebab-akibat.
Tinjauan sistematis tahun 2023 berjudul Being Thankful for What You Have juga menemukan hubungan positif antara rasa syukur dan kepuasan hidup setelah menelaah 44 artikel dengan total 16.529 peserta. Namun, bukti bahwa latihan syukur menyebabkan peningkatan kepuasan hidup masih beragam, sehingga manfaatnya tidak perlu dianggap sebagai jaminan bagi setiap orang.
Kita boleh mencoba mencatat hal baik tanpa menuntut diri langsung merasa bahagia. Pada hari yang berat, mengakui bahwa kita sedang sedih atau lelah juga merupakan bentuk kejujuran terhadap diri sendiri.
Menentukan Arti Cukup untuk Diri Sendiri
Setiap orang memiliki kebutuhan dan tanggung jawab yang berbeda. Bagi seseorang, cukup berarti mampu membayar kebutuhan bulanan, sementara bagi orang lain berarti memiliki waktu bersama keluarga atau bekerja tanpa terus mengorbankan kesehatan.
Karena itu, kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan. Pertanyaan tersebut membantu kita memahami apakah sebuah keinginan lahir dari kebutuhan pribadi atau tekanan untuk mengikuti kehidupan orang lain.
Kita bisa memberi jeda sebelum membeli sesuatu, mengurangi waktu melihat unggahan yang memancing perbandingan, atau mengingat kemajuan kecil yang sudah dibuat. Langkah-langkah sederhana ini dapat dicoba perlahan, sesuai keadaan dan kemampuan masing-masing.
Merasa cukup tetap memberi ruang untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Kita boleh mencari pekerjaan baru, menabung, melanjutkan pendidikan, atau meninggalkan keadaan yang menyakitkan.
Kita juga berhak kecewa ketika kebutuhan belum terpenuhi dan usaha belum menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Nasihat tentang rasa cukup semestinya memberi ketenangan, tanpa mengecilkan kesulitan yang sedang dihadapi seseorang.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak akan merasa cukup setiap hari. Ada kalanya rasa iri datang, keinginan bertambah, dan kehidupan terasa jauh dari harapan.
Saat itu terjadi, kita bisa kembali melihat diri sendiri dengan lebih ramah. Kita sudah menjalani banyak hal, dan usaha tersebut layak dihargai meskipun hasilnya belum seperti yang diinginkan.
Masih ada yang ingin kita usahakan, tetapi masih ada pula yang bisa dinikmati hari ini. Percakapan sederhana, makan malam yang hangat, atau waktu beristirahat dapat menjadi bagian kehidupan yang tidak perlu menunggu keberhasilan besar untuk terasa berarti.
Kita boleh terus berjalan menuju kehidupan yang diinginkan. Sepanjang perjalanan itu, kita juga boleh merasa berharga, bahkan ketika belum memiliki semua yang diimpikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....