Konsisten Jalani Olahraga tanpa Merasa FOMO

  • 29 Sep 2026 23:29 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Tren olahraga yang semakin ramai di media sosial dapat membuat seseorang merasa harus ikut berlari, pergi ke gym, mengikuti kelas olahraga, atau mencoba berbagai tantangan kebugaran agar tidak tertinggal. Padahal, olahraga seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan tubuh, bukan kewajiban untuk mengikuti aktivitas orang lain.

Perasaan takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO) dapat muncul ketika seseorang melihat orang lain rutin berolahraga, mencapai target tertentu, atau membagikan perkembangan fisiknya di media sosial. Penelitian Audita Izza Balqis dan Cleoputri Yusainy dari Universitas Brawijaya terhadap 479 pengguna Instagram dengan rata-rata usia 21,24 tahun menemukan bahwa peserta dengan tingkat FOMO lebih tinggi melaporkan kepatuhan melakukan aktivitas fisik yang lebih rendah, meskipun pengaruh FOMO tersebut menjadi tidak signifikan setelah memperhitungkan trait self-control.

Karena itu, langkah pertama untuk berolahraga tanpa FOMO adalah menentukan alasan pribadi mengapa aktivitas tersebut ingin dilakukan. Tujuan seperti meningkatkan stamina, menjaga kesehatan, memperbaiki kualitas tidur, mengurangi stres, atau sekadar menikmati waktu bergerak dapat menjadi motivasi yang lebih personal dibandingkan mengejar pencapaian yang terlihat pada unggahan orang lain.

Penelitian Aysha Nimiya, Vasudha K.G., Sharanya B. Shetty, dan sejumlah peneliti dari Kasturba Medical College di India yang diterbitkan pada 2024 melibatkan 212 pengguna Instagram berusia 20 hingga 30 tahun. Studi tersebut mengukur citra tubuh, motivasi olahraga, dan perbandingan sosial, serta menemukan adanya perbedaan dalam citra tubuh dan motivasi olahraga berdasarkan jenis kelamin, sementara tidak ditemukan perbedaan jenis kelamin dalam kecenderungan melakukan perbandingan sosial; peserta yang rutin berolahraga dan mengikuti akun kebugaran juga menunjukkan persoalan citra tubuh yang lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding.

Agar tidak mudah terbawa tren, seseorang juga dapat membuat target olahraga berdasarkan kondisi tubuh dan jadwal pribadi, kemudian menaikkannya secara bertahap. Tidak harus mengikuti jumlah kilometer, durasi latihan, berat beban, atau frekuensi olahraga milik orang lain karena tingkat kebugaran, pengalaman, waktu pemulihan, dan kondisi kesehatan setiap orang berbeda.

Menariknya, penelitian mengenai motivasi olahraga justru menunjukkan pentingnya alasan yang berasal dari diri sendiri dalam mempertahankan kebiasaan tersebut. Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity menemukan bahwa motivasi yang lebih otonom atau berasal dari pilihan dan nilai pribadi berkaitan positif dengan aktivitas fisik, sementara motivasi intrinsik secara khusus lebih berhubungan dengan kepatuhan olahraga dalam jangka panjang.

Karena itu, olahraga tidak perlu selalu terlihat menarik, mengikuti tren, atau dibagikan di media sosial agar tetap bernilai. Memilih aktivitas yang disukai, membatasi paparan konten yang membuat terus membandingkan diri, mencatat perkembangan pribadi, dan memberi tubuh waktu untuk beristirahat dapat membantu olahraga menjadi kebiasaan yang lebih realistis dan berkelanjutan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....