Kenapa Olahraga Sering Disebut sebagai Pelarian saat Seseorang Merasa Galau?
- 10 Sep 2026 07:10 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Ketika sedang galau, kecewa, atau menghadapi masalah emosional, sebagian orang memilih berolahraga untuk mengalihkan pikiran dari perasaan yang sedang berat. Aktivitas seperti berlari, berjalan, bersepeda, atau latihan di pusat kebugaran dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak dari pikiran yang terus berputar dan memusatkan perhatian pada aktivitas fisik.
Olahraga juga dapat menjadi bentuk pengalihan yang relatif sehat karena tubuh membutuhkan fokus untuk bergerak, mengatur napas, menjaga keseimbangan, dan menyelesaikan latihan. Dengan perhatian yang beralih pada aktivitas tersebut, seseorang untuk sementara dapat mengurangi kecenderungan terus memikirkan masalah atau melakukan rumination, yaitu pola memikirkan persoalan dan emosi negatif secara berulang tanpa menemukan penyelesaian.
| Baca juga: Mengenali Ciri Anak Introvert dan Ekstrovert |
Hubungan antara olahraga dan rumination mendapat dukungan dari penelitian Shuhua Li, Jiafeng Jia, Bingrui Xu, dan Xiaochun Wang yang diterbitkan dalam Psychology of Sport and Exercise pada 2025. Mereka melakukan systematic review dan meta-analysis terhadap uji acak terkontrol yang diterbitkan hingga Oktober 2023, dengan lima studi dan 260 peserta untuk analisis rumination, dan menemukan bahwa olahraga memberikan perbaikan pada rumination dengan standardized mean difference (SMD) −0,59; manfaat tersebut terutama terlihat pada olahraga aerobik intensitas sedang selama 31–60 menit, satu hingga dua kali per minggu selama 5–8 minggu.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar cara untuk membuat tubuh lelah agar seseorang tidak memikirkan masalah, tetapi berpotensi membantu proses regulasi emosi. Kajian tahun 2026 oleh Junyu Bai dan Jinqiao Zhang yang diterbitkan di Frontiers in Psychology juga membahas olahraga sebagai intervensi potensial terhadap rumination, dengan meninjau mekanisme saraf dan psikologis yang mungkin menjelaskan hubungan antara aktivitas fisik dan pengelolaan pikiran yang berulang.
Efek olahraga terhadap kondisi emosional juga terlihat dalam penelitian dengan cakupan yang lebih luas. Meta-meta-analysis yang diterbitkan di British Journal of Sports Medicine pada 2026 merangkum 63 studi, 81 meta-analisis, 1.079 penelitian komponen, dan 79.551 peserta, lalu menemukan bahwa olahraga berkaitan dengan penurunan gejala depresi dan kecemasan; efeknya terhadap depresi memiliki SMD −0,61, sedangkan kecemasan −0,47.
Karena itu, istilah “olahraga sebagai pelarian” tidak selalu berarti seseorang sedang menghindari masalah secara negatif, selama aktivitas tersebut digunakan sebagai cara menenangkan diri sebelum kembali menghadapi persoalan. Olahraga dapat menjadi bagian dari coping mechanism, tetapi jika dilakukan semata-mata untuk menekan emosi tanpa pernah menghadapi sumber masalah, seseorang tetap perlu mencari cara lain seperti berbicara dengan orang yang dipercaya, melakukan refleksi, atau mencari bantuan profesional ketika tekanan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, tidak ada jenis olahraga tertentu yang wajib dilakukan ketika seseorang sedang galau karena pilihan aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi fisik, kemampuan, dan hal yang membuat seseorang merasa nyaman. Yang terpenting adalah menjadikan aktivitas fisik sebagai ruang untuk mengatur kembali emosi, memperoleh energi positif, dan memberi jarak dari pikiran yang sedang memenuhi kepala, bukan sebagai satu-satunya cara untuk menyelesaikan persoalan emosional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....