Red Flag dalam Pertemanan, Apa Saja yang Perlu Diwaspadai?
- 29 Sep 2026 23:28 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Istilah red flag tidak hanya digunakan dalam hubungan romantis, tetapi juga dapat muncul dalam konteks pertemanan ketika terdapat pola perilaku yang membuat hubungan terasa tidak aman atau tidak sehat. Meski setiap pertemanan memiliki perbedaan karakter dan sesekali mengalami konflik, perilaku seperti merendahkan, memanipulasi, melanggar batasan, atau hanya datang ketika membutuhkan sesuatu patut menjadi bahan evaluasi.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika seorang teman terus-menerus membuat seseorang merasa tidak berharga melalui ejekan, kritik berlebihan, atau membandingkan pencapaian secara tidak sehat. Konflik sesekali sebenarnya merupakan bagian dari hubungan sosial, tetapi konflik yang berulang tanpa komunikasi dan penyelesaian dapat memengaruhi kualitas pertemanan.
Penelitian Abdullah Alsarrani, Ruth F. Hunter, Laura Dunne, Leandro Garcia, dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam BMC Public Health pada 2022 melakukan systematic review terhadap 21.585 publikasi dan akhirnya memasukkan 43 artikel kuantitatif yang meneliti kualitas pertemanan dan kesejahteraan remaja. Dari penelitian yang ditinjau, hubungan pertemanan yang buruk berkaitan dengan kesepian dalam sembilan dari sepuluh studi, sementara kualitas pertemanan yang lebih baik secara konsisten berkaitan dengan kesejahteraan subjektif dalam lima studi yang menelitinya.
Red flag lainnya dapat terlihat ketika batasan pribadi tidak dihargai, misalnya teman memaksa mengetahui hal-hal yang ingin dirahasiakan, mengontrol dengan siapa seseorang boleh berteman, atau terus mendesak meskipun sudah mengatakan tidak. Sikap tersebut perlu dibedakan dari perhatian atau kepedulian karena hubungan pertemanan yang sehat tetap memberikan ruang bagi setiap individu untuk memiliki privasi, pilihan, dan kehidupan sosial di luar kelompok pertemanan.
Perilaku manipulatif juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan, terutama jika seseorang sengaja membuat temannya merasa bersalah agar mengikuti keinginannya. Penelitian Antonius H. N. Cillessen dan rekan-rekan terhadap 224 remaja berusia 15 hingga 17 tahun yang membentuk 112 pasangan sahabat menemukan bahwa perilaku agresif berkaitan dengan persepsi konflik yang lebih tinggi dan kualitas positif pertemanan yang lebih rendah.
Namun, satu kejadian tidak selalu cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah pertemanan bersifat buruk karena konteks, kepribadian, dan cara setiap orang menyelesaikan masalah dapat berbeda. Yang lebih penting adalah melihat pola dalam jangka waktu tertentu, termasuk apakah kedua pihak dapat saling mendengarkan, meminta maaf, menghormati batasan, dan memperbaiki perilaku setelah terjadi konflik.
Pada akhirnya, mengenali red flag dalam pertemanan bukan berarti harus terburu-buru memutus hubungan dengan seseorang. Jika komunikasi dan penetapan batasan tidak lagi mampu mengatasi perilaku yang terus merugikan, seseorang dapat mempertimbangkan untuk mengambil jarak dan mencari dukungan dari orang yang dipercaya, karena pertemanan yang sehat idealnya memberikan ruang untuk saling menghargai, merasa aman, dan berkembang bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....