Gen Z dan Krisis Jati Diri, Harus Mulai dari Mana?

  • 28 Sep 2026 22:12 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Memasuki usia dewasa, Generasi Z tidak jarang dihadapkan pada pertanyaan tentang siapa dirinya, pekerjaan apa yang ingin dijalani, hingga hubungan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan. Di tengah banyaknya pilihan dan derasnya informasi dari media sosial, proses mencari arah hidup justru dapat terasa semakin membingungkan karena pencapaian orang lain terus muncul di hadapan mereka.

Kondisi ini kerap dikaitkan dengan quarter-life crisis, meskipun istilah tersebut bukan diagnosis psikologis resmi, melainkan gambaran mengenai periode ketika seseorang mengalami kebingungan atau tekanan dalam menghadapi pendidikan, pekerjaan, hubungan, dan masa depan. Pada tahap emerging adulthood, seseorang memang masih dapat melakukan eksplorasi terhadap identitas, nilai, pekerjaan, maupun hubungan sebelum menentukan pilihan yang lebih stabil.

Media sosial kemudian menambah tantangan karena Gen Z dapat melihat teman sebaya yang sudah mendapatkan pekerjaan, membangun bisnis, menikah, atau mencapai berbagai target pada usia yang relatif muda. Penelitian Rattanaburi yang diterbitkan pada 2026 melalui wawancara terhadap 30 mahasiswa Gen Z menemukan bahwa media sosial dapat membuka peluang karier dan jejaring, tetapi pada saat yang sama memunculkan perbandingan sosial, ekspektasi untuk sukses lebih cepat, serta kekhawatiran terhadap perkembangan karier.

Tekanan untuk terus membandingkan diri juga perlu diperhatikan ketika seseorang sedang berusaha mengenali identitasnya sendiri. Studi yang diterbitkan dalam Procedia Computer Science pada 2024 melibatkan 163 responden melalui survei daring dan menemukan bahwa penggunaan Instagram, baik aktif maupun pasif, berkaitan dengan perbandingan sosial yang kemudian memiliki hubungan dengan gejala depresi, meskipun temuan tersebut tidak berarti setiap pengguna media sosial akan mengalami kondisi yang sama.

Dalam urusan karier, menentukan pekerjaan yang sesuai tidak harus dimulai dari pertanyaan “pekerjaan apa yang paling keren”, tetapi dari mengenali nilai, kemampuan, kebutuhan, dan gaya hidup yang ingin dibangun. Gen Z dapat mencoba berbagai pengalaman melalui pekerjaan, proyek, organisasi, kursus, maupun kegiatan sukarela, kemudian mengevaluasi pengalaman tersebut untuk melihat aktivitas apa yang membuat mereka merasa berkembang dan pekerjaan seperti apa yang tidak sesuai dengan dirinya.

Hal yang sama berlaku dalam hubungan karena relasi yang sehat bukan sekadar mencari seseorang yang memenuhi standar sosial, tetapi memahami kebutuhan emosional, nilai, batasan, serta tujuan hidup yang ingin dijalani bersama. Karena itu, daripada terburu-buru mempertahankan hubungan hanya karena takut tertinggal dari teman sebaya, seseorang dapat menggunakan proses mengenal orang lain sekaligus sebagai kesempatan untuk memahami dirinya sendiri.

Menemukan jati diri pada akhirnya bukan perlombaan untuk memiliki jawaban paling cepat tentang karier, pasangan, atau masa depan, melainkan proses mengenali diri melalui pengalaman dan evaluasi yang terus berkembang. Mengurangi kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain, memberi ruang untuk mencoba hal baru, serta menentukan ukuran keberhasilan berdasarkan nilai pribadi dapat membantu Gen Z membangun pilihan hidup yang lebih sesuai dengan dirinya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....