Sering Mengalami Cemas Berlebih, Bisa Jadi Faktor Genetik
- 29 Agt 2026 22:17 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Rasa cemas merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau tidak pasti, tetapi pada sebagian orang kecemasan dapat muncul terlalu sering, terlalu kuat, dan sulit dikendalikan. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut gangguan kecemasan sebagai gangguan mental yang ditandai rasa takut dan kekhawatiran berlebihan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pendidikan, maupun pekerjaan.
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kecemasan adalah pengalaman hidup yang penuh tekanan, seperti kehilangan orang terdekat, masalah pekerjaan, konflik keluarga, persoalan keuangan, kekerasan, hingga pengalaman traumatis. WHO menjelaskan bahwa gangguan kecemasan dapat muncul melalui interaksi kompleks antara faktor sosial, psikologis, dan biologis, sehingga tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang mengalami kecemasan berlebih.
Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak juga dapat meninggalkan pengaruh terhadap cara seseorang merespons tekanan ketika dewasa. Sebuah systematic review dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorderspada 2015 menganalisis 32 penelitian dan memasukkan 13 penelitian ke dalam meta-analisis, dengan hasil bahwa individu yang mengalami trauma emosional pada masa awal kehidupan memiliki kemungkinan sekitar 1,9 hingga 3,6 kali lebih besar mengalami gangguan kecemasan dibandingkan kelompok kontrol.
Faktor genetik juga ikut berperan, meskipun memiliki kerentanan genetik tidak berarti seseorang pasti mengalami gangguan kecemasan. Tinjauan penelitian oleh Jordan W. Smoller yang diterbitkan dalam Neuropsychopharmacologypada 2016 menjelaskan bahwa faktor genetik dan lingkungan sama-sama berkontribusi terhadap gangguan kecemasan, sementara berbagai penelitian sebelumnya memperkirakan sekitar 30 hingga 40 persen variasi kerentanan terhadap gangguan kecemasan berkaitan dengan faktor yang dapat diwariskan.
Selain faktor psikologis dan genetik, kondisi kesehatan serta kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi tingkat kecemasan. Kurang tidur, tekanan pekerjaan, penggunaan alkohol atau zat tertentu, serta kondisi kesehatan fisik yang berlangsung lama dapat memperburuk kekhawatiran, sementara konsumsi kafein dan nikotin pada sebagian orang juga dapat meningkatkan rasa gelisah atau gejala fisik yang menyerupai kecemasan.
Lingkungan sosial turut menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikan karena seseorang hidup dalam keluarga, tempat kerja, sekolah, dan komunitas yang dapat memberikan tekanan sekaligus dukungan. WHO menegaskan bahwa kemiskinan, kekerasan, ketidaksetaraan, pengalaman buruk pada masa perkembangan, serta minimnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental, sedangkan hubungan sosial yang positif, lingkungan yang aman, pendidikan, dan pekerjaan yang layak dapat menjadi faktor pelindung.
Dengan demikian, cemas berlebih sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda seseorang lemah atau tidak mampu menghadapi masalah karena penyebabnya dapat melibatkan banyak faktor yang saling berinteraksi. Jika rasa takut dan khawatir berlangsung terus-menerus selama berbulan-bulan, sulit dikendalikan, mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, atau membuat seseorang terus menghindari situasi tertentu, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu menemukan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....