Cuaca Panas Perlu Diwaspadai karena Bisa Memperburuk Risiko Gangguan Pernapasan

  • 30 Agt 2026 22:29 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Cuaca panas tidak hanya membuat tubuh lebih cepat merasa haus dan lelah, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan saluran pernapasan. Risiko tersebut menjadi lebih perlu diperhatikan ketika suhu tinggi berlangsung bersamaan dengan kualitas udara yang buruk, debu, asap, atau polusi.

Kementerian Kesehatan sebelumnya mengingatkan bahwa peningkatan suhu dan perubahan pola angin dapat membawa lebih banyak partikel debu yang berdampak pada saluran pernapasan, termasuk meningkatkan risiko alergi, influenza-like illness, hingga ISPA. Artinya, bukan panasnya saja yang secara langsung menyebabkan ISPA, tetapi kondisi lingkungan yang menyertainya dapat meningkatkan paparan terhadap pemicu gangguan pernapasan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menjelaskan bahwa cuaca panas ekstrem dapat memperburuk kondisi pernapasan yang sudah ada sebelumnya. Paparan panas dan polusi udara secara bersamaan diketahui memiliki dampak terhadap penyakit pernapasan dan dapat memperburuk kondisi kesehatan tertentu.

Partikel halus dari polusi udara menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika udara terasa panas dan kualitas lingkungan menurun. WHO menyebut paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan dan memberikan dampak yang lebih besar pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Untuk mengurangi paparan, masyarakat dapat membatasi aktivitas fisik di luar ruangan ketika suhu sedang sangat tinggi, terutama pada waktu terpanas dalam sehari. Memilih tempat yang teduh, menjaga tubuh tetap terhidrasi, dan memperhatikan kualitas udara juga menjadi langkah yang dianjurkan ketika kondisi panas berlangsung.

Orang yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma perlu lebih berhati-hati ketika menghadapi cuaca panas dan kualitas udara yang buruk. WHO mencatat bahwa panas ekstrem dan polusi udara dapat menjadi faktor yang memperburuk penyakit pernapasan, sehingga kelompok dengan kondisi tersebut perlu lebih memperhatikan perubahan lingkungan.

Selain menjaga kondisi tubuh, mengurangi paparan asap rokok dan debu juga penting selama cuaca panas. Lingkungan yang banyak asap atau partikel di udara dapat semakin membebani saluran pernapasan, terutama ketika seseorang sudah mengalami batuk atau gejala gangguan pernapasan.

Jadi, anggapan bahwa cuaca panas secara langsung menyebabkan ISPA perlu diluruskan karena ISPA memiliki berbagai penyebab, termasuk infeksi virus atau bakteri. Namun, panas ekstrem yang disertai polusi, debu, asap, dan kondisi udara yang buruk memang dapat memperburuk kesehatan pernapasan sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.

Sumber: World Health Organization (WHO), Heat and Health (2026); WHO, The Synergies of Heat Stress and Air Pollution and Its Health Impacts (2025); WHO, Health Effects of Air Pollution (2026); Kementerian Kesehatan RI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....