Sunset Anxiety: Mengapa Rasa Cemas Justru Muncul saat Matahari Mulai Terbenam?
- 29 Agt 2026 22:17 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Bagi sebagian orang, waktu matahari terbenam bukan selalu menjadi momen yang menenangkan, tetapi justru dapat memunculkan rasa gelisah, sedih, khawatir, atau tidak nyaman tanpa penyebab yang jelas. Fenomena yang banyak disebut di media sosial sebagai sunset anxiety menggambarkan munculnya kecemasan ketika hari mulai berakhir, meski istilah tersebut bukan diagnosis psikologis resmi dalam klasifikasi gangguan mental.
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah perubahan suasana ketika aktivitas sepanjang hari mulai berhenti dan seseorang memiliki lebih banyak ruang untuk memikirkan persoalan yang sebelumnya teralihkan. Pikiran mengenai pekerjaan yang belum selesai, hubungan, kondisi keuangan, rencana esok hari, atau berbagai kekhawatiran lain dapat terasa lebih kuat ketika lingkungan menjadi lebih tenang sehingga perhatian tidak lagi banyak terbagi.
Faktor biologis juga dapat berperan karena tubuh memiliki sistem ritme sirkadian yang mengatur perubahan fungsi tubuh sepanjang hari, termasuk tidur, kewaspadaan, hormon, dan suasana hati. Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memang dapat berubah mengikuti waktu dalam sehari, meskipun pola tersebut tidak sama pada setiap orang dan tidak berarti setiap rasa cemas saat matahari terbenam disebabkan oleh gangguan ritme biologis.
Salah satu penelitian yang relevan dilakukan Rebecca C. Cox dan koleganya dan diterbitkan dalam Psychiatry Researchpada Agustus 2024 dengan DOI 10.1016/j.psychres.2024.116006. Penelitian terhadap 410 orang dewasa tersebut menemukan bahwa gejala kecemasan berfluktuasi sepanjang hari, sementara individu dengan evening chronotype atau kecenderungan aktif pada malam hari justru melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada malam hari, terutama mereka yang memiliki kemungkinan gangguan kecemasan menyeluruh atau OCD.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman sunset anxiety kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan pemandangan matahari terbenam, tetapi juga dengan karakter biologis dan psikologis seseorang. Bahkan, penelitian lebih lama yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders pada 1986 terhadap 86 pasien dengan gangguan kecemasan menemukan bahwa gejala kecemasan cenderung lebih berat pada sore atau malam dibandingkan pagi hari, memberikan bukti bahwa waktu dalam sehari dapat berkaitan dengan perubahan intensitas gejala pada sebagian orang.
Meski demikian, seseorang yang sesekali merasa sedih atau gelisah ketika hari mulai gelap tidak otomatis mengalami gangguan kecemasan. Perasaan tersebut dapat dicoba dikelola dengan membuat rutinitas transisi dari aktivitas siang menuju malam, mengurangi pekerjaan menjelang waktu istirahat, melakukan aktivitas yang menenangkan, membatasi konsumsi kafein pada sore hari, serta mencatat situasi atau pikiran apa yang biasanya muncul ketika kecemasan mulai terasa.
Jika rasa cemas ketika sore atau malam hari terjadi berulang, semakin berat, mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau kualitas tidur, kondisi tersebut sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai sunset anxiety yang sedang tren di media sosial. Pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater dapat membantu mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan kecemasan, depresi, gangguan tidur, stres berkepanjangan, atau faktor lain sehingga penanganannya dapat disesuaikan dengan penyebabnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....