Kenapa Tubuh Sering Terbangun di Tengah Malam saat Tidur?

  • 29 Agt 2026 06:05 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Terbangun di tengah malam merupakan kondisi yang cukup umum dan tidak selalu menandakan adanya gangguan kesehatan. Siklus tidur manusia memang terdiri atas beberapa tahap tidur non-REM dan REM, sehingga pada titik tertentu seseorang dapat mengalami tidur yang lebih ringan dan lebih mudah terbangun, bahkan tanpa menyadarinya dalam waktu lama.

Salah satu faktor yang berperan adalah ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang mengatur kapan seseorang merasa mengantuk dan kapan tubuh mulai bersiap untuk terjaga. Menurut National Institutes of Health atau NIH, ritme tersebut dipengaruhi oleh cahaya, kondisi lingkungan, serta hormon seperti melatonin yang meningkat ketika hari mulai gelap dan kortisol yang membantu tubuh bersiap bangun pada pagi hari.

Kebiasaan sehari-hari juga dapat membuat seseorang lebih mudah terbangun pada malam hari, termasuk mengonsumsi kafein atau nikotin menjelang tidur, menggunakan perangkat elektronik hingga larut malam, tidur siang terlalu lama, serta memiliki jadwal tidur yang tidak teratur. Konsumsi alkohol juga perlu diperhatikan karena meskipun dapat membuat seseorang lebih cepat tertidur, alkohol dapat menyebabkan tidur menjadi lebih ringan sehingga peluang terbangun pada malam hari meningkat.

Faktor lain yang sering menjadi pemicu adalah stres dan kecemasan, terutama ketika pikiran masih aktif memikirkan pekerjaan, masalah keluarga, kondisi keuangan, atau berbagai persoalan lainnya. NIH menyebut stres dan kekhawatiran sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko insomnia, sementara kebiasaan melihat jam ketika terbangun dan merasa cemas karena belum kembali tidur justru dapat memperburuk masalah tersebut.

Kondisi fisik tertentu juga dapat menyebabkan tidur terputus, seperti kebutuhan buang air kecil pada malam hari, nyeri kronis, gangguan pernapasan saat tidur atau sleep apnea, serta perubahan hormon dan proses penuaan. Sebuah systematic review yang dipimpin Irina Verbakel dan rekan-rekannya, diterbitkan dalam Minerva Urology and Nephrology pada 2025, meninjau penelitian mengenai hubungan insomnia dan nocturia dengan pencarian literatur dari EMBASE, MEDLINE, ClinicalTrials.gov, dan CENTRAL hingga November 2022.

Penelitian mengenai penanganan insomnia juga menunjukkan bahwa terbangun pada malam hari dapat menjadi bagian dari masalah sleep maintenance insomnia, yaitu kondisi ketika seseorang dapat tertidur tetapi sulit mempertahankan tidurnya atau sulit kembali tidur setelah terbangun. Dalam systematic review dan meta-analysis American Academy of Sleep Medicine, sejumlah penelitian mengenai terapi perilaku dan psikologis dianalisis, termasuk temuan dari salah satu studi bahwa terapi pembatasan waktu tidur dikaitkan dengan penurunan sekitar 0,60 kali terbangun pada malam hari dibandingkan kelompok kontrol, meski peneliti menilai kualitas bukti tersebut masih rendah karena keterbatasan penelitian.

Jika terbangun hanya sesekali dan dapat kembali tidur dengan mudah, kondisi tersebut umumnya tidak perlu langsung dianggap sebagai penyakit. Namun, apabila seseorang sering terbangun, membutuhkan waktu lama untuk kembali tidur, mengalami kantuk atau kelelahan pada siang hari, atau kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mencari penyebabnya, sementara menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten, membatasi kafein serta alkohol menjelang tidur, dan membuat kamar tetap gelap, tenang, serta nyaman dapat membantu menjaga kualitas tidur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....