Cara Menghadapi Lingkungan Kerja yang Toxic agar Tetap Sehat dan Profesional
- 28 Agt 2026 06:39 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Lingkungan kerja yang toxic dapat ditandai dengan berbagai perilaku dan kondisi yang membuat pekerja terus-menerus merasa tertekan, seperti perundungan, komunikasi yang buruk, beban kerja berlebihan, diskriminasi, hingga minimnya dukungan dari atasan maupun rekan kerja. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memasukkan beban kerja berlebihan, rendahnya kendali terhadap pekerjaan, budaya organisasi yang memungkinkan perilaku negatif, pelecehan, perundungan, diskriminasi, dan kurangnya dukungan sebagai sejumlah risiko psikososial di tempat kerja.
Langkah pertama untuk menghadapi kondisi tersebut adalah mengenali batasan diri dan tidak menganggap semua perilaku negatif sebagai sesuatu yang harus ditoleransi. Pekerja dapat mulai mencatat kejadian yang bermasalah, seperti tanggal, waktu, pihak yang terlibat, bentuk perlakuan, serta dampaknya terhadap pekerjaan, sehingga memiliki dokumentasi apabila masalah tersebut perlu dilaporkan kepada atasan atau bagian sumber daya manusia.
Menjaga komunikasi juga penting ketika berhadapan dengan rekan kerja atau atasan yang sulit. Usahakan menyampaikan keberatan secara tenang, fokus pada masalah dan dampaknya terhadap pekerjaan, serta menghindari respons emosional yang justru dapat memperburuk konflik.
Penelitian menunjukkan bahwa persoalan lingkungan kerja memang berkaitan dengan kesehatan mental pekerja. Meta-review yang diterbitkan dalam Occupational and Environmental Medicine pada 2017 menganalisis 37 studi tinjauan dan menemukan bukti tingkat sedang dari sejumlah penelitian prospektif bahwa tuntutan kerja tinggi, rendahnya kendali terhadap pekerjaan, ketidakseimbangan antara usaha dan penghargaan, ketidakadilan di tempat kerja, bullying, serta rendahnya dukungan sosial berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres.
Perundungan di tempat kerja bahkan perlu mendapat perhatian lebih serius karena dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang. Meta-analisis Bart Verkuil, Serpil Atasayi, dan Marc L. Molendijk yang diterbitkan di PLOS ONE pada 2015 menganalisis data lintas waktu dengan total 54.450 peserta dan menemukan hubungan antara paparan bullying di tempat kerja dengan keluhan kesehatan mental dari waktu ke waktu, sementara analisis data lintas waktu juga menunjukkan kaitan dengan gejala depresi, kecemasan, dan keluhan psikologis akibat stres.
Jika situasi semakin berat, pekerja tidak harus menghadapinya sendirian. WHO melalui Guidelines on Mental Health at Work yang diterbitkan pada 2022 merekomendasikan berbagai intervensi, termasuk perbaikan kondisi kerja, pelatihan bagi manajer, peningkatan literasi kesehatan mental pekerja, serta dukungan bagi pekerja yang mengalami masalah kesehatan mental.
Menghadapi lingkungan kerja yang toxic bukan berarti harus selalu bertahan dalam kondisi yang merugikan diri sendiri. Jika berbagai upaya penyelesaian tidak berhasil dan kondisi terus berdampak terhadap kesehatan maupun keselamatan, pekerja dapat mempertimbangkan jalur formal melalui HR, serikat pekerja atau mekanisme pengaduan yang tersedia, sekaligus mencari dukungan profesional dan mempersiapkan pilihan karier lain secara matang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....