Bagaimana Seseorang Bisa Memiliki Coping Mechanism-nya Sendiri?
- 10 Sep 2026 07:13 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Setiap orang memiliki cara yang berbeda ketika menghadapi tekanan, mulai dari memilih menyendiri, bercerita kepada orang terdekat, berolahraga, bekerja, menulis, hingga mencari hiburan untuk mengalihkan pikiran. Perbedaan tersebut terjadi karena coping mechanism atau mekanisme koping terbentuk dari pengalaman, cara seseorang menilai masalah, kepribadian, lingkungan sosial, serta sumber daya yang dimilikinya ketika menghadapi situasi sulit.
Dalam psikologi, mekanisme koping pada dasarnya merupakan upaya kognitif maupun perilaku untuk menghadapi tuntutan yang dinilai membebani atau melebihi kemampuan seseorang. Karena setiap masalah memiliki karakter berbeda, strategi yang efektif juga tidak selalu sama, sehingga seseorang dapat memiliki beberapa cara koping dan memilihnya berdasarkan kondisi yang sedang dihadapi.
Penelitian klasik oleh Susan Folkman, Richard S. Lazarus, Richard J. Gruen, dan Anita DeLongis yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 1986 melibatkan 150 orang dewasa yang tinggal di komunitas. Penelitian tersebut mengamati hubungan antara cara seseorang menilai situasi yang penuh tekanan, pilihan strategi koping, kondisi kesehatan fisik, dan gejala psikologis, serta menunjukkan pentingnya proses penilaian individu terhadap masalah sebelum menentukan cara menghadapinya.
Artinya, seseorang sebenarnya dapat membangun mekanisme koping melalui proses mengenali pola dirinya sendiri ketika menghadapi tekanan. Misalnya, seseorang mungkin menyadari bahwa berbicara dengan teman membuat pikirannya lebih teratur, sementara orang lain justru merasa lebih tenang setelah berjalan kaki, berolahraga, mendengarkan musik, beribadah, atau mengambil waktu untuk menyendiri.
Kemampuan tersebut juga tidak berarti seseorang harus memiliki satu mekanisme koping yang selalu digunakan dalam setiap keadaan. Meta-analisis Cecilia Cheng, Hi-Po Bobo Lau, dan Man-Pui Sally Chan yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada 2014 menganalisis 329 studi dengan total 58.946 partisipan dan menemukan hubungan positif antara fleksibilitas koping dan penyesuaian psikologis, dengan efek keseluruhan kecil hingga sedang, terutama ketika seseorang mampu menyesuaikan strategi dengan situasi yang dihadapi.
Karena itu, menemukan coping mechanism sendiri dapat dimulai dengan memperhatikan apa yang terjadi setelah seseorang menggunakan suatu strategi: apakah pikiran menjadi lebih tenang, masalah menjadi lebih terkelola, dan kemampuan menjalani aktivitas kembali membaik. Dari proses tersebut, seseorang dapat menyusun semacam “daftar pertolongan diri” yang berisi beberapa aktivitas sehat untuk menghadapi situasi berbeda, seperti mencari dukungan sosial ketika membutuhkan tempat bercerita atau mengambil langkah konkret ketika masalah memang dapat diselesaikan.
Yang perlu diingat, memiliki mekanisme koping bukan berarti seseorang harus selalu mampu menghadapi semuanya sendirian atau menghindari emosi yang tidak menyenangkan. Justru, kemampuan mengenali kapan harus menghadapi masalah, kapan perlu mengambil jeda, kapan mencari dukungan, dan kapan membutuhkan bantuan profesional merupakan bagian dari koping yang adaptif, karena strategi yang tepat adalah strategi yang membantu seseorang menghadapi situasi tanpa menciptakan persoalan baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....