Kenapa Bahan Makanan Organik Jauh Lebih Mahal? Ini Faktor yang Membentuk Harganya

  • 17 Agt 2026 15:39 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Harga bahan makanan organik sering kali lebih tinggi dibandingkan produk konvensional, baik untuk sayuran, buah, telur, susu, maupun produk olahan. Perbedaan harga tersebut bukan semata-mata karena label “organik”, tetapi berkaitan dengan proses produksi, biaya tenaga kerja, sertifikasi, hasil panen, hingga rantai distribusi yang harus memenuhi standar tertentu.

Salah satu penyebabnya adalah sistem budidaya organik memiliki aturan yang membatasi penggunaan sejumlah input sintetis dan mengharuskan petani menerapkan metode pengelolaan tertentu. USDA Economic Research Service mencatat bahwa petani organik perlu memperoleh benih yang sesuai, mengelola kesuburan tanah dan hama dengan metode yang diperbolehkan, serta menanggung biaya sertifikasi, sehingga biaya produksinya rata-rata lebih tinggi dibandingkan pertanian konvensional.

Produktivitas lahan juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi harga. Meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Nature oleh Verena Seufert, Navin Ramankutty, dan Jonathan A. Foley pada 2012 menganalisis berbagai perbandingan hasil pertanian organik dan konvensional di dunia dan menemukan bahwa hasil pertanian organik secara umum lebih rendah, dengan selisih yang sangat bergantung pada jenis tanaman, kondisi lahan, dan praktik pengelolaannya; dalam sistem yang paling sebanding, kesenjangannya dapat mencapai 34 persen.

Kebutuhan tenaga kerja yang lebih besar juga dapat membuat biaya produksi meningkat, terutama pada kegiatan seperti pengendalian gulma, pemupukan organik, pengendalian hama, dan pemanenan. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2015 oleh Lauren C. Crowder dan John P. Reganold, yang membandingkan kinerja ekonomi sistem pertanian organik dan konvensional secara global, menemukan biaya tenaga kerja pada pertanian organik secara signifikan lebih tinggi, sekitar 7 persen pada tingkat sistem dan 13 persen pada tingkat tanaman.

Selain proses di tingkat petani, produk organik juga membutuhkan penanganan khusus setelah panen agar tidak tercampur dengan produk konvensional. USDA menjelaskan bahwa pengangkutan, penyimpanan, pengolahan, hingga penempatan di toko dapat membutuhkan prosedur pemisahan dan pengawasan tambahan, sementara operasi organik juga harus menjalani pemeriksaan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar yang berlaku.

Harga yang lebih tinggi juga dipengaruhi oleh mekanisme pasar karena pasokan produk organik belum selalu sebesar produk konvensional, sementara permintaannya terus tumbuh. USDA mencatat bahwa produk organik pada umumnya masih memperoleh price premium, meskipun besarnya berbeda-beda menurut jenis produk dan dalam beberapa tahun terakhir selisih harga sejumlah komoditas organik dengan produk konvensional mulai menyempit.

Dengan demikian, harga makanan organik yang lebih mahal merupakan hasil gabungan dari biaya produksi, kebutuhan tenaga kerja, produktivitas, sertifikasi, penanganan khusus, serta kondisi permintaan dan pasokan. Namun, mahal tidak otomatis berarti semua produk organik memiliki manfaat kesehatan yang lebih tinggi dalam setiap aspek, sehingga konsumen tetap perlu melihat kebutuhan, kualitas produk, asal-usulnya, serta sertifikasi yang digunakan sebelum memutuskan untuk membeli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....