Mengenal Makanan Ultra Proses, Praktis tetapi Perlu Dikonsumsi dengan Bijak
- 30 Jul 2026 22:10 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF) semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mi instan, sosis, nugget, minuman bersoda, camilan kemasan, hingga aneka makanan siap saji. Meski praktis dan memiliki cita rasa yang disukai banyak orang, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi makanan ultra proses secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Istilah makanan ultra proses diperkenalkan melalui sistem klasifikasi NOVA yang dikembangkan oleh peneliti dari University of São Paulo, Brasil, yang dipimpin Prof. Carlos Augusto Monteiro. Dalam klasifikasi tersebut, makanan ultra proses merupakan produk industri yang dibuat melalui berbagai tahapan pengolahan dan mengandung bahan-bahan yang jarang digunakan dalam masakan rumahan, seperti pengawet, pewarna, pemanis buatan, pengemulsi, penambah rasa, hingga penstabil tekstur.
Berbeda dengan makanan olahan biasa, makanan ultra proses umumnya tidak lagi menyerupai bahan pangan aslinya. Produk ini biasanya memiliki kandungan gula tambahan, garam, dan lemak jenuh yang tinggi, tetapi rendah serat, vitamin, serta mineral yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra proses dalam jumlah besar berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analysis yang diterbitkan dalam The BMJ pada 2024 dan melibatkan hampir 10 juta partisipan dari berbagai negara menemukan bahwa konsumsi makanan ultra proses yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian akibat berbagai penyebab, penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, gangguan kesehatan mental, serta gangguan tidur.
| Baca juga: Ke Mana Larinya Uang Kita Tiap Bulan? |
Selain memengaruhi kesehatan fisik, makanan ultra proses juga dapat memengaruhi pola makan seseorang. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism pada 2019 oleh Kevin D. Hall dan tim dari National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat, menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan ultra proses secara bebas makan sekitar 500 kilokalori lebih banyak per hari dibandingkan saat mengonsumsi makanan yang minim proses, sehingga mengalami peningkatan berat badan dalam waktu singkat.
Meski demikian, bukan berarti semua makanan kemasan harus dihindari sepenuhnya. Kunci utamanya adalah memperhatikan komposisi bahan, kandungan gizi, serta frekuensi konsumsi dengan lebih mengutamakan makanan segar seperti sayur, buah, kacang-kacangan, ikan, telur, dan biji-bijian utuh sebagai sumber nutrisi utama.
Para ahli menyarankan agar makanan ultra proses hanya menjadi pelengkap, bukan menu utama dalam pola makan sehari-hari. Dengan membatasi konsumsi produk ultra proses dan memperbanyak makanan yang diolah secara sederhana, masyarakat dapat menurunkan risiko berbagai penyakit kronis sekaligus menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....