Jangan Langsung Membuang Kulit Bawang Merah karena Masih Bisa Dimanfaatkan

  • 28 Jul 2026 07:09 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kulit bawang merah sering kali langsung dibuang setelah proses memasak karena dianggap sebagai limbah dapur yang tidak memiliki manfaat. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan kulit bawang merah mengandung senyawa bioaktif yang masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Foods dan Antioxidants, kulit bawang merah kaya akan flavonoid, terutama quercetin, serta senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa tersebut berperan membantu menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh.

Di rumah tangga, kulit bawang merah dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos karena mengandung unsur hara yang baik untuk tanah. Kulit bawang juga dapat direndam bersama air untuk dijadikan pupuk organik cair setelah melalui proses yang tepat.

Selain itu, kulit bawang merah kerap dimanfaatkan sebagai pewarna alami pada kain maupun telur hias karena menghasilkan warna cokelat kemerahan. Cara ini telah lama digunakan di berbagai negara sebagai alternatif pewarna yang berasal dari bahan alami.

Meski memiliki berbagai potensi manfaat, kulit bawang merah tidak disarankan dikonsumsi secara langsung dalam kondisi mentah. Apabila ingin digunakan sebagai bahan pangan atau minuman, proses pengolahan harus memperhatikan kebersihan dan keamanan agar terhindar dari kontaminasi.

Sebelum dimanfaatkan, kulit bawang merah sebaiknya dicuci apabila terlihat kotor atau masih mengandung sisa tanah. Penyimpanan di tempat yang kering juga dapat membantu mencegah pertumbuhan jamur yang dapat menurunkan kualitasnya.

Memanfaatkan kulit bawang merah menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi limbah makanan di rumah tangga. Kebiasaan tersebut juga sejalan dengan upaya menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan bahan pangan secara optimal.

Sumber: Foods (MDPI); Antioxidants (MDPI); Journal of Food Science; Food and Agriculture Organization (FAO).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....