Kenapa Orang Suka Bergosip? ternyata Bukan Sekadar Kebiasaan Buruk

  • 06 Jun 2026 18:15 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Bergosip sering kali dianggap sebagai perilaku negatif karena identik dengan membicarakan kehidupan orang lain di belakang mereka. Namun, para psikolog menilai bahwa kebiasaan ini merupakan bagian dari perilaku sosial yang telah ada sejak manusia hidup dalam kelompok dan memiliki fungsi tertentu dalam menjaga hubungan antarindividu.

Menurut para ahli, gosip tidak selalu berisi informasi buruk atau fitnah. Dalam banyak kasus, seseorang bergosip untuk berbagi informasi, mempererat hubungan pertemanan, atau sekadar mencari topik pembicaraan yang membuat interaksi sosial menjadi lebih akrab dan nyaman.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of California, Riverside, dan dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science pada tahun 2019 menemukan bahwa manusia menghabiskan rata-rata 52 menit per hari untuk bergosip. Studi yang melibatkan 467 orang dewasa berusia 18 hingga 58 tahun tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar isi gosip justru bersifat netral dan tidak selalu negatif.

Para peneliti juga menemukan bahwa orang cenderung bergosip untuk mempelajari norma sosial dan memahami perilaku orang lain. Informasi yang diperoleh melalui percakapan sehari-hari membantu seseorang mengetahui apa yang dianggap dapat diterima atau tidak oleh lingkungan sosialnya.

Selain faktor sosial, bergosip juga dapat memberikan efek psikologis berupa rasa terhubung dengan kelompok. Saat seseorang berbagi cerita atau mendiskusikan pengalaman orang lain, otak dapat melepaskan hormon dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan dalam berinteraksi dengan sesama.

Meski demikian, kebiasaan bergosip yang berlebihan atau berisi informasi yang belum tentu benar dapat berdampak negatif. Gosip yang mengandung fitnah atau menyerang privasi orang lain berpotensi merusak hubungan sosial, menimbulkan konflik, bahkan memengaruhi kesehatan mental pihak yang menjadi sasaran pembicaraan.

Para psikolog menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar dalam percakapan sehari-hari. Membiasakan diri untuk memverifikasi informasi, menghindari penyebaran kabar yang tidak jelas kebenarannya, serta mengutamakan empati dapat membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat dan saling menghargai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....