Fenomena Thrifting di Kalangan Anak Muda Bengkulu: Hemat, Gaya, atau Konsumtif?

  • 11 Agt 2026 15:06 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Thrifting atau membeli pakaian bekas kini menjadi salah satu pilihan berbelanja yang semakin menarik perhatian anak muda, termasuk mahasiswa di Bengkulu. Harga yang relatif terjangkau, keinginan tampil modis dan kesempatan mendapatkan pakaian dengan karakter berbeda membuat aktivitas berburu pakaian bekas berkembang menjadi bagian dari gaya hidup.

Fenomena tersebut telah diteliti oleh Afrima Widanti, Ilsya Hayadi dan Febzi Fiona dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu melalui penelitian Fenomena Baju Thrift pada Mahasiswa di Bengkulu. Penelitian terhadap 147 mahasiswa di Bengkulu menemukan bahwa gaya hidup, harga dan kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian pakaian thrift.

Dari sisi perilaku konsumen, penelitian Dewi Kurniaty, Aris Subagio, Ayu Andriani Simatupang dan Nada Fathimah Nursaffanah dari Universitas Paramadina juga mengkaji perilaku konsumen Indonesia terhadap thrift shopping. Penelitian yang melibatkan 155 responden menemukan bahwa penggunaan TikTok untuk memperoleh informasi tentang thrifting berpengaruh signifikan terhadap niat melakukan pembelian thrift, sementara faktor usia dan pendapatan tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam penelitian tersebut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa thrifting tidak semata-mata berkaitan dengan kebutuhan mendapatkan pakaian murah, tetapi juga dipengaruhi tren dan lingkungan digital. Bagi anak muda, media sosial dapat menjadi ruang untuk menemukan inspirasi gaya, mencari informasi produk hingga melihat pengalaman konsumen lain sebelum memutuskan membeli.

Dari perspektif lingkungan, Bettina Heller, Programme Manager pada Industry and Economy Division, United Nations Environment Programme (UNEP), terlibat dalam kerja UNEP terkait keberlanjutan dan ekonomi sirkular sektor tekstil. UNEP menempatkan industri fesyen dan tekstil sebagai sektor dengan dampak besar terhadap lingkungan sekaligus mendorong perubahan terhadap pola overproduction dan overconsumption.

Namun, membeli pakaian bekas tidak otomatis membuat seseorang menjadi konsumen berkelanjutan. UNECE dan ECLAC dalam kajian terbaru Februari 2026 menyebut perdagangan pakaian bekas dapat mendukung ekonomi sirkular melalui penggunaan kembali pakaian, tetapi sistem perdagangan juga menghadapi persoalan kualitas rendah dan masuknya pakaian yang pada akhirnya menjadi limbah.

Karena itu, anak muda Bengkulu perlu melihat thrifting secara lebih bijak, bukan sekadar mengejar harga murah atau tren yang sedang populer. Sebelum membeli, konsumen dapat mempertimbangkan kebutuhan, kondisi pakaian, kualitas, harga dan kemungkinan benar-benar menggunakan barang tersebut agar aktivitas thrifting tidak berubah menjadi pola konsumsi berlebihan.

Fenomena thrifting pada akhirnya berada di antara kebutuhan ekonomi, gaya hidup dan kesadaran terhadap lingkungan. Jika dilakukan dengan pertimbangan yang matang, membeli pakaian bekas dapat menjadi alternatif konsumsi, tetapi jika pembelian dilakukan terus-menerus hanya karena tren dan harga murah, aktivitas tersebut tetap berpotensi mendorong perilaku konsumtif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....