Dari Bahasa Bengkulu hingga “Yapping”, Gaya Bicara Anak Muda Ikut Berubah di Era Media
- 11 Sep 2026 17:42 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, BENGKULU – “Yapping”, “delulu”, “FYP”, hingga berbagai istilah baru kini semakin mudah terdengar dalam percakapan anak muda, termasuk ketika berinteraksi di media sosial maupun berbincang bersama teman sehari-hari. Di Bengkulu, fenomena tersebut menjadi menarik karena bahasa gaul internet hadir berdampingan dengan kosakata lokal yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat, mulai dari bahasa Melayu Bengkulu hingga bahasa Rejang, Serawai, Lembak dan bahasa daerah lainnya.
Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat istilah baru dapat menyebar dengan sangat cepat, bahkan sebuah kata yang sebelumnya terdengar asing dapat berubah menjadi bagian dari percakapan hanya dalam waktu singkat. RRI.co.id Bengkulu dalam artikel berjudul “Arti Yapping dalam Bahasa Gen Z” pada 20 Februari 2026 menjelaskan bahwa “yapping” digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berbicara terlalu banyak atau terlalu panjang, dengan penggunaannya banyak ditemukan di TikTok, Instagram dan X.
Fenomena serupa terlihat dari munculnya istilah seperti “delulu”, “solulu” dan “trululu” yang berkembang melalui kreativitas pengguna internet sebelum akhirnya digunakan dalam percakapan sehari-hari. RRI.co.id menjelaskan “delulu” berasal dari kata delusional dan sering dipakai secara humoris untuk menggambarkan harapan yang tidak realistis, sementara “solulu” dikaitkan dengan solusi dan “trululu” digunakan dalam konteks melihat kenyataan atau kebenaran.
Di tengah derasnya bahasa internet tersebut, Bengkulu sebenarnya memiliki kekayaan bahasa daerah yang juga telah menemukan ruangnya di media sosial, termasuk dalam unggahan akun-akun informasi lokal. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Batra milik Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menemukan akun Instagram Bengkulu Info menggunakan variasi bahasa dalam takarirnya, termasuk bahasa Melayu Bengkulu dan Serawai selain bahasa Indonesia dan bahasa asing.
Media sosial dengan demikian tidak harus menjadi tempat bahasa daerah kehilangan ruang, karena platform yang sama justru dapat digunakan untuk membuat ungkapan khas Bengkulu terasa lebih dekat dengan generasi muda. Kata, logat, ungkapan humor, cerita pendek maupun percakapan menggunakan bahasa daerah dapat dikemas menjadi video singkat dan konten kreatif sehingga masyarakat dari luar Bengkulu pun memiliki kesempatan untuk mengenalnya.
Semangat memanfaatkan ruang digital secara kreatif juga terlihat melalui Pemilihan Duta Kreator Bengkulu 2026 yang diikuti 84 pendaftar dari sekitar 10 hingga 15 sekolah tingkat SMP dan SMA di Kota Bengkulu. Ketua Panitia Duta Kreator Bengkulu 2026, Muhamad Ihza, kepada RRI mengatakan mereka mencari anak muda yang mau berperan dalam digitalisasi dan “bisa memberikan dampak melalui informasi maupun konten yang bermanfaat bagi Kota Bengkulu,” memperlihatkan besarnya peluang generasi muda menggunakan media sosial untuk membawa identitas daerah.
Masuknya istilah seperti “yapping” atau “delulu” tentu menjadi bagian wajar dari perkembangan bahasa dan kreativitas generasi yang tumbuh bersama internet, tetapi bahasa daerah Bengkulu juga memiliki kesempatan untuk ikut hidup dalam percakapan digital tersebut. Tantangannya kini bukan sekadar membuat anak muda memahami arti istilah yang sedang viral, melainkan bagaimana sebuah kata khas Bengkulu, logat lokal atau ungkapan dari bahasa daerah juga dapat dikemas menarik hingga suatu hari ikut memenuhi kolom komentar dan beranda media sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....