Sejarah Letusan Gunung Krakatau: Bencana Dahsyat yang Mengubah Selat Sunda
- 10 Sep 2026 12:08 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Gunung Krakatau merupakan kompleks gunung api yang terletak di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, dan telah mengalami aktivitas vulkanik sejak jauh sebelum letusan besarnya pada abad ke-19. Menurut Smithsonian Institution Global Volcanism Program, kompleks Krakatau terbentuk melalui sejarah geologi panjang, termasuk runtuhnya gunung api purba yang membentuk kaldera selebar sekitar tujuh kilometer sebelum kemudian muncul beberapa kerucut gunung api seperti Rakata, Danan, dan Perbuwatan.
Aktivitas Krakatau yang kemudian berkembang menjadi bencana besar tercatat mulai meningkat pada 20 Mei 1883, ketika gunung tersebut memasuki periode erupsi yang berlangsung selama beberapa bulan. Berdasarkan catatan Smithsonian Institution Global Volcanism Program, erupsi tahun 1883 dikategorikan sebagai letusan eksplosif dan efusif dengan Volcanic Explosivity Index (VEI) 6, disertai lontaran abu, batu apung, aliran piroklastik, gempa, dan berbagai fenomena vulkanik lainnya.
Puncak bencana terjadi pada 26–27 Agustus 1883 ketika Krakatau mengalami rangkaian ledakan luar biasa dahsyat yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan mengubah bentuk kepulauan di sekitarnya. USGS mencatat bahwa dalam periode sekitar 23 jam tersebut lebih dari empat mil kubik material vulkanik terlontar, sementara sumber USGS lainnya menyebut kolom erupsi mencapai ketinggian lebih dari 30 kilometer.
Dampak paling mematikan dari letusan Krakatau bukan hanya berasal dari ledakan dan material vulkanik, tetapi juga tsunami besar yang menerjang wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda. Smithsonian Institution mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal akibat bencana 1883, dengan sebagian besar korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pesisir Sumatra dan Jawa setelah terjadinya letusan dan keruntuhan kaldera.
Kekuatan letusan Krakatau bahkan menimbulkan fenomena yang dapat diamati jauh dari Indonesia, sehingga menjadikannya salah satu peristiwa vulkanik paling terkenal dalam sejarah yang tercatat. Menurut USGS, dampak letusan tersebut tercatat di berbagai wilayah dunia dan sejumlah fenomenanya bertahan selama beberapa tahun, sedangkan laporan ilmiah Royal Society tahun 1888 secara khusus membahas gelombang udara, suara ledakan, gelombang laut, serta perubahan fenomena optik atmosfer setelah erupsi.
Setelah letusan dahsyat tersebut, Krakatau tidak sepenuhnya berhenti beraktivitas karena proses vulkanik kembali membangun sebuah gunung baru dari kawasan kaldera yang terbentuk pada 1883. Smithsonian Institution mencatat bahwa aktivitas yang dimulai pada akhir Desember 1927 kemudian membentuk kerucut Anak Krakatau hingga muncul di atas permukaan laut, dan gunung baru tersebut selanjutnya mengalami berbagai episode erupsi dalam perkembangannya.
Sejarah Krakatau menunjukkan bahwa letusan gunung api dapat membawa perubahan besar terhadap bentang alam sekaligus menimbulkan bencana yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia dan lingkungan. Catatan ilmiah mengenai erupsi 1883 serta pertumbuhan Anak Krakatau hingga masa modern menjadi sumber penting bagi para ahli untuk memahami karakter gunung api tersebut sekaligus meningkatkan pengetahuan mengenai ancaman erupsi dan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....