PMMI Bengkulu Ingatkan Risiko Kedifabelan akibat Usia dan Bencana

  • 16 Jul 2026 20:13 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Istilah difabel tidak hanya merujuk pada seseorang yang memiliki keterbatasan fisik atau sensorik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap orang berpotensi mengalami kondisi tersebut di masa depan. Karena itu, pembangunan lingkungan yang inklusif dinilai bukan hanya untuk kepentingan penyandang disabilitas saat ini, melainkan juga sebagai investasi bagi seluruh masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Ahmad Tareq Aziz, S.Sos., dari Perkumpulan Mitra Masyarakat Inklusif (PMMI) Bengkulu, dalam dialog Bengkulu Menyapa, pada Kamis, 16 Juli 2026. Menurutnya, pemahaman mengenai kedifabelan perlu terus disosialisasikan agar masyarakat tidak lagi memandang difabel sebagai kelompok yang terpisah, melainkan bagian dari kehidupan yang dapat dialami siapa saja.

Ahmad menjelaskan bahwa kedifabelan merupakan kondisi ketika seseorang memiliki keterhambatan fisik maupun sensorik dalam jangka waktu yang lama. "Kedifabelan itu seseorang yang memiliki keterhambatan fisik ataupun sensorik dalam jangka waktu yang lama," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk menjadi difabel seiring bertambahnya usia. "Karena kalau kita diberikan Tuhan usia yang panjang, kita akan mengalami keterhambatan fisik itu," katanya.

Menurut Ahmad, proses penuaan akan membuat banyak orang mengalami penurunan kemampuan fisik sehingga membutuhkan alat bantu untuk beraktivitas. "Yang hari ini non difabel akan mengalami fase itu, akhirnya kita akan bertongkat, akan menggunakan kursi roda," ucapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai membangun kesadaran tentang pentingnya lingkungan yang ramah bagi semua kalangan. "Kita mulai hari ini, sebenarnya sedang mempersiapkan untuk diri kita sendiri juga, dan kita juga nggak akan tau apa yang akan terjadi yang akan datang," tuturnya.

Selain faktor usia, Ahmad mengatakan seseorang juga dapat menjadi difabel akibat kecelakaan, penyakit, maupun bencana alam. Ia mengungkapkan bahwa banyak anggota PMMI Bengkulu yang sebelumnya tidak mengalami disabilitas, tetapi kemudian menjadi difabel. "Banyak teman kita di PMMI itu dari yang non difabel menjadi difabel," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Bengkulu merupakan daerah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi sehingga risiko munculnya penyandang difabel baru perlu menjadi perhatian bersama. "Bengkulu kategori rawan bencana, dengan intensitas gempa, banjir, jadi sesuatu yang perlu kita pikirkan secara bersama-sama," kata Ahmad mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....