Forensik Psikologis Turut Berperan dalam Penanganan Kekerasan Seksual
- 16 Sep 2026 15:01 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Forensik psikologis memiliki peran dalam penanganan kasus kekerasan seksual, khususnya untuk memberikan gambaran mengenai perilaku dan kepribadian seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana. Pendekatan tersebut juga dapat membantu melihat dampak psikologis yang dialami korban, terutama pada kasus kekerasan seksual terhadap anak.
Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR) Bengkulu menilai aspek psikologis memiliki keterkaitan dengan kesehatan reproduksi korban kekerasan seksual. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena korban, khususnya anak, dapat mengalami dampak fisik maupun psikologis akibat tindak kekerasan yang dialaminya.
Ketua APSIFOR Bengkulu, Ainul Mardiati, S.Psi., M.H., mengatakan tugas psikologi forensik dalam konteks tindak pidana adalah memberikan gambaran mengenai perilaku atau kepribadian seseorang dalam melakukan tindak pidana. “Kalau berhubungan dengan reproduksi, Apsifor ini tugasnya adalah memberikan gambaran perilaku atau kepribadian seseorang dalam melakukan tindak pidana,” kata Ainul.
Menurut Ainul, keterkaitan antara forensik psikologis dan kesehatan reproduksi semakin penting ketika kasus kekerasan seksual melibatkan anak. Ia menuturkan, pada kasus perkosaan, terdapat anak yang secara usia dan kondisi tubuh belum siap menghadapi risiko akibat hubungan seksual.
“Kalau berhubungan dengan kesehatan reproduksi, ini sangat berhubungan, karena pada kasus perkosaan, kadang-kadang anak yang diperkosa adalah usia-usia dia belum siap tubuhnya untuk membuat satu risiko dalam artian berhubungan seksual,” tutur Ainul.
Kondisi kesehatan reproduksi korban juga dapat dipengaruhi oleh keadaan psikologis setelah mengalami kekerasan seksual. Trauma yang dialami korban dapat memunculkan perubahan perilaku, termasuk perilaku seksual tertentu sebagai dampak dari pengalaman kekerasan.
Menurut Ainul, kondisi tersebut perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk dari aspek pemenuhan nutrisi dan kondisi psikologis anak. “Ini sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi apabila anak tersebut nutrisinya tidak baik, secara psikologis dia terganggu, akhirnya ada perilaku-perilaku seksual yang dimunculkan dari trauma tadi, yang disebabkan kejahatan seksual di masyarakat,” ujar Ainul.
Ia menambahkan, dampak kejahatan seksual terhadap anak tidak hanya berkaitan dengan kejadian yang dialami pada saat itu, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan perilaku korban setelahnya. Karena itu, pemahaman terhadap kondisi korban menjadi bagian penting dalam proses penanganan kasus kekerasan seksual.
Ainul menuturkan, pemeriksaan dan pendekatan psikologi forensik dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi psikologis yang berkaitan dengan perkara. Pendekatan tersebut juga perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi korban dan dampak yang muncul setelah mengalami kekerasan seksual.
Dengan demikian, penanganan kekerasan seksual terhadap anak perlu memperhatikan keterkaitan antara aspek hukum, psikologis, dan kesehatan reproduksi. Pendekatan yang menyeluruh diharapkan dapat membantu proses penanganan korban sekaligus memahami dampak yang ditimbulkan akibat kejahatan seksual.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....