Tradisi Kamis Putih: Meneladani Kerendahan Hati di Ambang Sengsara
- 02 Apr 2026 09:15 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Kamis Putih merupakan pembuka resmi dari Trihari Suci yang merayakan kenangan akan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Berdasarkan sumber liturgi resmi Gereja Katolik, hari ini menandai penetapan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat oleh Yesus Kristus sendiri.
Dalam perjamuan tersebut, Yesus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya sebagai tanda perjanjian baru yang kekal. Tindakan sakramental ini menjadi dasar utama bagi umat Katolik untuk merayakan misa kudus sebagai sumber dan puncak kehidupan iman mereka.
Salah satu tradisi paling ikonik dalam misa ini adalah ritus pembasuhan kaki atau yang secara resmi disebut sebagai Mandatum. Melalui tindakan ini, Yesus memberikan perintah baru agar para pengikut-Nya saling mengasihi dengan semangat pelayanan yang rendah hati.
Gereja menegaskan bahwa pembasuhan kaki bukan sekadar drama sejarah, melainkan panggilan konkret bagi umat untuk melayani sesama tanpa memandang status. Tradisi ini mengingatkan bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang bersedia menjadi hamba bagi orang lain.
Setelah perayaan Ekaristi selesai, suasana liturgi berubah menjadi hening dan reflektif tanpa adanya berkat penutup resmi. Hostia Kudus kemudian diarak dalam prosesi khidmat menuju altar persinggahan yang telah disiapkan secara khusus di dalam gereja.
Tradisi ini melambangkan perjalanan Yesus dari ruang perjamuan menuju Taman Getsemani untuk menghadapi penderitaan-Nya. Umat diajak untuk tetap terjaga dalam doa, menemani kesendirian Kristus sebelum Ia dikhianati dan ditangkap oleh para prajurit.
Altar utama kemudian dikosongkan dari segala ornamen, termasuk kain taplak, lilin, dan salib, dalam prosesi yang disebut pelenyapan hiasan altar. Kekosongan ini menggambarkan penelanjangan martabat Yesus dan kesunyian mendalam yang dirasakan Gereja saat memasuki masa sengsara.
Sebagai penutup rangkaian tradisi, umat Katolik melakukan ibadat Tuguran atau berjaga-jaga di depan Sakramen Mahakudus hingga tengah malam. Momen ini adalah waktu bagi setiap pribadi untuk merenungkan kasih Tuhan yang tanpa batas sebelum memasuki peringatan wafat-Nya di hari Jumat Agung.
Melalui seluruh rangkaian liturgi Kamis Putih, umat diajak masuk ke dalam inti misteri keselamatan melalui cinta dan pengorbanan. Inilah saat di mana Gereja merayakan persatuan yang tak terputus antara Kristus, imam, dan seluruh umat beriman dalam satu perjamuan kasih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....