Jumat Agung: Merenungkan Pengorbanan Kristus di Bukit Golgota

  • 03 Apr 2026 13:21 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Jumat Agung merupakan hari paling berkabung dalam kalender Gereja Katolik untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Merujuk pada tradisi resmi, hari ini adalah satu-satunya hari dalam setahun di mana Gereja tidak merayakan ekaristi atau konsekrasi roti dan anggur.

Fokus utama liturgi Jumat Agung adalah penghormatan salib dan pembacaan kisah sengsara Tuhan menurut Injil Yohanes secara meriah. Umat diajak untuk masuk ke dalam misteri penderitaan Kristus yang rela wafat demi menebus dosa-dosa umat manusia secara tuntas.

Upacara biasanya dilaksanakan pada sore hari, sekitar pukul tiga, yang secara tradisional diyakini sebagai waktu ketika Yesus mengembuskan napas terakhir. Suasana ibadat ditandai dengan keheningan yang mencekam, di mana para imam bersujud di depan altar yang telanjang tanpa hiasan apa pun.

Ritus Penghormatan Salib menjadi momen sentral di mana umat maju satu per satu untuk mencium atau memberi hormat pada kayu salib. Tindakan ini merupakan ekspresi kasih dan rasa syukur atas pengorbanan Yesus yang menjadi jalan keselamatan bagi setiap orang beriman.

Selain mengikuti ibadat resmi di gereja, umat Katolik juga menjalankan tradisi pantang dan puasa sebagai bentuk pertobatan yang mendalam. Puasa ini bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan upaya penyucian batin untuk menyatukan penderitaan pribadi dengan penderitaan Kristus di Golgota.

Tradisi lain yang kuat adalah pelaksanaan Jalan Salib yang biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum upacara liturgi dimulai. Melalui perhentian demi perhentian, umat merenungkan setiap langkah Yesus yang memikul salib hingga puncak penyaliban yang memilukan.

Meski diliputi duka, Jumat Agung bagi umat Katolik bukanlah sebuah akhir yang sia-sia, melainkan kemenangan atas maut yang penuh harapan. Kematian Kristus dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan kembali manusia dengan Allah melalui pengampunan yang tak terhingga nilainya.

Keseluruhan perayaan ini ditutup dengan komuni yang diambil dari hostia yang telah dikonsekrasi pada misa Kamis Putih sebelumnya. Umat kemudian meninggalkan gereja dalam keheningan total tanpa adanya nyanyian atau iringan musik apa pun untuk merenungkan wafat Sang Juru Selamat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....