Ribuan Umat Buddha Ikuti Indonesia Tipitaka Chanting 2026 di Borobudur
- 25 Jul 2026 07:56 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Magelang - Suasana khidmat menyelimuti Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, saat ribuan umat Buddha memulai rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026, Jumat 24 Juli 2025. Kegiatan tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-11 ini menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus penghayatan ajaran Buddha melalui pelantunan Kitab Suci Tipitaka secara bersama-sama.
Indonesia Tipitaka Chanting 2026 diselenggarakan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) bekerja sama dengan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI). Sebanyak 2.045 peserta ambil bagian dalam kegiatan tersebut, terdiri atas para bhikkhu dari berbagai negara, samanera, atthasilani, serta umat Buddha yang menjalankan Atthasila.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, mengatakan pembacaan Kitab Suci Tipitaka bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pembangunan karakter menjadi fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis dan berkeadaban.
“Pembangunan fisik yang nampak secara nyata di depan mata kita tentu akan rapuh kalau tidak ditopang dengan karakter yang sangat baik. Saya percaya bahwa melalui Indonesia Tipitaka Chanting ini adalah sebagai upaya untuk memberikan dan membangun jati diri umat Buddha Indonesia,” ujar Supriyadi saat membuka ITC 2026, Jumat 24 Juli 2026.
Ia menegaskan bahwa kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa tidak dapat dipisahkan. Nilai-nilai agama, menurutnya, harus diwujudkan dalam sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab dan mencintai Tanah Air.
“Kita semua menyadari sebagai umat beragama dan sebagai warga negara memiliki sebuah mandat yang sangat luhur yang harus kita jalankan agar kita bisa menjadi umat yang betul-betul taat menjalankan agamanya dan sekaligus juga menjadi warga negara yang cinta tanah air dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Supriyadi juga menekankan bahwa pemahaman agama yang semakin mendalam semestinya melahirkan sikap saling menghormati dan memperluas kasih sayang kepada sesama, termasuk kepada mereka yang memiliki latar belakang berbeda.
“Semakin dalam seseorang memahami agamanya, maka sesungguhnya mereka akan semakin luas mempunyai rasa kasih sayang dan rasa hormat kepada mereka yang berbeda,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Supriyadi menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus mendukung pembinaan umat Buddha di Indonesia.
“Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Buddha berkomitmen untuk terus mendukung dan melayani umat Buddha di Indonesia,” tegasnya.
Turut mendampingi dalam pembukaan kegiatan, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar.
Sementara itu, Ketua Panitia Indonesia Tipitaka Chanting 2026, Bhante Guttadhammo Mahāthera, menjelaskan bahwa pelantunan Kitab Suci Tipitaka bertujuan memperdalam pemahaman sekaligus penghayatan terhadap ajaran Buddha agar dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, setelah Kitab Suci Tipitaka dibaca, bisa direnungkan dan mengubah cara berpikir dan bertindak kita. Agar kita menjadikan Kitab Suci Tipitaka sebagai patokan, ukuran, keyakinan, dan praktik kehidupan sehari-hari,” ujar Bhante Guttadhammo Mahāthera.
Menurutnya, Indonesia Tipitaka Chanting tidak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga momentum meningkatkan kualitas spiritual umat Buddha. Penghayatan terhadap isi Tipitaka diharapkan mampu membentuk karakter, kebijaksanaan, serta perilaku yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Mengusung tema "Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri", ITC 2026 mencerminkan tekad umat Buddha untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Dhamma melalui kontribusi nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting 2026 akan ditutup dengan perayaan Asadha Mahapuja di pelataran Candi Borobudur pada 26 Juli 2026. Perayaan tersebut menjadi momen penting bagi umat Buddha untuk mengenang khotbah pertama Sammasambuddha Gotama kepada lima pertapa yang menandai awal penyebaran ajaran Dhamma kepada dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....