Sejarah Cendol, Kuliner Tradisional Nusantara yang Tetap Digemari

  • 18 Agt 2026 08:58 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Cendol atau cendoi merupakan salah satu kuliner tradisional yang populer di kawasan Nusantara. Minuman pencuci mulut ini dikenal dengan cita rasa manis dan gurih, serta sensasi segar dari perpaduan jeli hijau, santan, gula merah, dan es.

Cendol umumnya dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan air pandan, kemudian dimasak hingga mengental. Adonan tersebut selanjutnya ditekan melalui saringan berlubang hingga membentuk butiran atau jeli berwarna hijau yang khas. Cendol kemudian disajikan bersama santan, sirup gula aren atau gula Melaka, serta es.

Di sejumlah daerah, cendol juga disajikan dengan tambahan bahan lain, seperti kacang merah, ketan, cincau, jagung, hingga durian. Variasi tersebut berkembang sesuai dengan selera dan tradisi kuliner masyarakat setempat.

Dari laman wikipedia, sejarah cendol masih menjadi bagian dari pembahasan mengenai perkembangan kuliner tradisional di Asia Tenggara. Salah satu pandangan menyebutkan bahwa cendol memiliki keterkaitan dengan dawet yang berkembang di Pulau Jawa.

Catatan mengenai minuman sejenis dawet telah ditemukan dalam sumber-sumber tertulis dari Jawa. Sementara itu, istilah tjendol juga tercatat dalam sejumlah kamus dan buku masak berbahasa Belanda pada abad ke-19 di Hindia Belanda.

Dalam Oost-Indisch kookboek yang terbit pada 1866, misalnya, terdapat istilah "Tjendol of Dawet". Catatan tersebut menunjukkan bahwa istilah cendol dan dawet telah digunakan untuk menyebut minuman yang memiliki kemiripan.

Istilah tjendol juga tercatat dalam Supplement op het Maleisch-Nederduitsch Woordenboek karya Jan Pijnappel pada 1869. Sementara di Tanah Melayu, istilah "chendul" disebut dalam kamus Melayu-Inggris yang disusun Hugh Clifford dan Frank Swettenham pada 1894.

Perkembangan istilah dan penyajiannya kemudian melahirkan beragam variasi cendol di berbagai wilayah Asia Tenggara.

Bahan utama cendol terdiri dari tepung beras, air pandan, santan, gula aren atau gula Melaka, dan es. Dalam pembuatan tradisional, adonan tepung beras dan air pandan dimasak hingga mengental. Adonan kemudian ditekan melalui cetakan atau saringan berlubang ke dalam wadah berisi air sehingga membentuk jeli kecil memanjang.

Setelah dingin, cendol disajikan dengan es, santan, dan larutan gula. Beberapa daerah menambahkan ketan, kacang merah, cincau, jagung, atau durian sebagai pelengkap.

Cendol berkembang luas di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Hidangan serupa juga ditemukan di sejumlah negara lain dengan nama dan variasi yang berbeda.

Di Indonesia, istilah yang umum digunakan adalah cendol dan dawet. Di sejumlah wilayah Jawa, dawet menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat dan tetap diproduksi secara tradisional hingga kini.

Sementara di Malaysia, cendol menjadi salah satu minuman pencuci mulut yang populer, terutama karena cocok dinikmati di tengah cuaca tropis. Berbagai kedai dan rumah makan menyajikan cendol dengan ciri khas masing-masing.

Dengan bahan yang sederhana dan cita rasa yang khas, cendol tidak hanya menjadi hidangan pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari warisan kuliner masyarakat Nusantara yang terus bertahan dan berkembang mengikuti zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....