Martabak, Kuliner Populer dengan Ragam Cita Rasa di Indonesia
- 25 Mei 2026 08:15 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Martabak merupakan salah satu kuliner populer yang dikenal luas di berbagai negara, seperti Arab Saudi, Yaman, India, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, hingga Brunei Darussalam.
Dari laman Wikipedia, dalam bahasa Arab, martabak berasal dari kata mutabbaq yang berarti “terlipat”. Seiring perkembangan budaya dan kuliner di berbagai wilayah, nama serta isi martabak pun mengalami beragam penyesuaian.
Di Indonesia, martabak dikenal dalam dua jenis utama, yakni martabak telur dan martabak manis. Martabak telur dibuat dari adonan kulit tipis yang diisi campuran telur, daging, serta daun bawang. Sementara itu, martabak manis merupakan kudapan berbentuk kue tebal dengan berbagai pilihan topping, seperti cokelat, keju, kacang, dan bahan pelengkap lainnya.
Di sejumlah daerah, martabak manis juga dikenal dengan sebutan terang bulan. Berbeda dengan martabak telur yang bercita rasa gurih, martabak manis lebih sering dinikmati sebagai makanan ringan saat bersantai bersama keluarga atau teman.
Sementara di Malaysia, martabak manis yang dikenal dengan nama Apam Balik kerap disajikan sebagai menu sarapan dan dinikmati bersama teh tarik. Meski memiliki nama yang sama, martabak manis di Indonesia sebenarnya berbeda dengan martabak telur. Penggunaan nama “martabak” pada kedua makanan tersebut muncul karena keduanya sering dijual berdampingan oleh para pedagang.
Martabak manis awalnya dikenal dengan nama Hok Lo Pan. Kudapan ini mulai populer di Kota Bandung pada 1950. Martabak manis diperkenalkan oleh seorang perantau asal Jebus, Pulau Bangka, bernama Hioe Kui Sem.
Di Bangka, Hok Lo Pan memiliki arti “kue keberuntungan” atau “kue hoki”. Saat itu, Hioe Kui Sem berjualan di kawasan Pasar Malam Jalan Cikapundung Barat, dekat Alun-alun Bandung. Lokasi lapaknya berada bersebelahan dengan pedagang martabak telur yang lebih dahulu dikenal masyarakat.
Untuk memudahkan pemasaran, kedua pedagang tersebut kemudian menggunakan penyebutan berbeda, yakni martabak asin untuk martabak telur dan martabak manis untuk Hok Lo Pan. Sejak saat itu, istilah martabak manis semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Martabak telur di Indonesia juga memiliki sejarah panjang. Kuliner ini berawal dari seorang pemuda asal Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah, bernama Ahmad bin Abdul Karim yang merantau ke Semarang pada 1930 untuk berdagang.
Di Semarang, Ahmad bertemu dengan seorang warga India bernama Abdullah bin Hasan al-Malibary yang memiliki keahlian memasak. Pertemanan keduanya kemudian berkembang menjadi hubungan keluarga setelah Abdullah menikah dengan saudara perempuan Ahmad.
Abdullah dikenal pandai membuat martabak berbahan dasar tepung terigu. Setelah tinggal di Indonesia, resep martabak tersebut disesuaikan dengan selera masyarakat Jawa yang menyukai sayuran. Dari proses adaptasi itulah lahir martabak telur dengan isian telur, daging, dan aneka sayuran.
Ahmad dan keluarganya kemudian mengajarkan cara membuat martabak kepada kerabat dan masyarakat sekitar. Mereka juga memperkenalkan martabak di berbagai acara keramaian, seperti pasar malam, Sekaten di Yogyakarta, dan Dugderan di Semarang.
Seiring waktu, martabak telur semakin dikenal dan kini menjadi salah satu kuliner favorit masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....