Waspada DBD di Bengkalis, 524 Kasus Tercatat hingga Juli 2026

  • 25 Jul 2026 11:31 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bengkalis masih menjadi perhatian serius. Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis mencatat sebanyak 524 kasus DBD hingga pertengahan Juli 2026, meski angka tersebut menunjukkan tren menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis Irawadi menjelaskan, lonjakan kasus terjadi pada akhir Mei hingga awal Juni 2026, seiring meningkatnya curah hujan dan kondisi cuaca yang tidak menentu.

"Kasus DBD tahun ini memang mulai mengalami penurunan pada bulan Juli. Puncak peningkatan terjadi pada akhir Mei hingga awal Juni. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya curah hujan dan cuaca yang berubah-ubah sehingga populasi nyamuk Aedes aegypti meningkat," kata Irawadi Sabtu 25 Juli 2026.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah kasus DBD pada tahun 2026 tersebar di sejumlah kecamatan. Kecamatan Bengkalis menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 149 kasus, disusul Kecamatan Mandau 100 kasus, Kecamatan Bantan 69 kasus, Bathin Solapan 57 kasus, Rupat 43 kasus, Bukit Batu 37 kasus, Siak Kecil 31 kasus, Tualang Muandau 15 kasus, Pinggir 13 kasus, Rupat Utara 8 kasus, dan Bandar Laksamana 2 kasus.

Sementara itu, berdasarkan kelompok umur, kasus terbanyak dialami anak usia 5–14 tahun sebanyak 225 kasus, disusul usia 15–44 tahun sebanyak 217 kasus, usia di atas 44 tahun sebanyak 40 kasus, usia 1–4 tahun sebanyak 29 kasus, dan bayi di bawah satu tahun sebanyak 13 kasus.

Data penyebaran kasus sepanjang tahun 2026 juga menunjukkan tren peningkatan sejak April. Pada Januari tercatat 55 kasus, Februari 45 kasus, Maret 45 kasus, April 91 kasus, Mei 113 kasus, dan mencapai puncaknya pada Juni dengan 173 kasus. Hingga 22 Juli 2026, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 67 kasus, menandakan adanya penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurutnya, kondisi pancaroba saat ini tetap harus diwaspadai karena dapat mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

"Nyamuk penyebab DBD berkembang biak di tempat penampungan air bersih. Kebiasaan masyarakat menampung air hujan untuk persediaan saat musim kemarau perlu diimbangi dengan menutup rapat tempat penampungan agar nyamuk tidak bertelur," ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat membersihkan lingkungan secara rutin dengan menerapkan gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air.

"Kaleng bekas, pot bunga, maupun wadah lain yang tergenang air harus dibersihkan atau diberi larutan yang dapat mencegah jentik berkembang. Penaburan bubuk abate di tempat penampungan air juga sangat dianjurkan," katanya.

Selain mengedepankan upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis juga terus melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari penyuluhan kepada masyarakat, penaburan bubuk abate, hingga fogging di lokasi yang telah terbukti terjadi penularan.

"Fogging dilakukan untuk memutus rantai penularan di wilayah yang ditemukan kasus. Namun yang paling penting adalah pemberantasan sarang nyamuk oleh masyarakat, karena fogging saja tidak cukup jika tempat berkembang biaknya nyamuk masih ada," tegasnya.

Berdasarkan tren lima tahun terakhir, kasus DBD di Kabupaten Bengkalis sempat melonjak tajam pada tahun 2024 dengan 711 kasus dan tiga kematian. Pada tahun 2025 tercatat 628 kasus dengan dua kematian, sedangkan hingga Juni 2026 terdapat 592 kasus dengan satu kematian. Meski tren kasus mulai menurun, Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama selama musim pancaroba, guna mencegah munculnya lonjakan kasus baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....