Tanaman Patah Tulang, Manfaat Herbal dan Risiko Penggunaan
- 18 Apr 2026 12:58 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Tanaman patah tulang dikenal luas sebagai tanaman hias dan pagar hidup di berbagai daerah. Selain itu, tanaman ini juga kerap dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.
Meski memiliki potensi manfaat kesehatan, penggunaan tanaman patah tulang perlu dilakukan secara hati-hati agar manfaat yang diperoleh optimal dan tidak menimbulkan efek samping.
Tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) memiliki ciri khas batang ramping berwarna hijau tanpa daun. Saat batangnya patah, akan keluar getah putih menyerupai susu.
Getah inilah yang menjadi perhatian utama karena dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan mata jika tidak ditangani dengan benar. Meski demikian, bagian tanaman ini kerap diolah secara tradisional, termasuk dijadikan bahan herbal.
Tanaman ini tumbuh subur di wilayah tropis, seperti Indonesia, Brasil, dan beberapa negara Afrika. Di sejumlah negara, tanaman patah tulang juga dikenal dengan nama firestick plant, pencil tree, atau milk bush.
Tanaman patah tulang mengandung berbagai senyawa aktif, di antaranya euphorbine, euphol, flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan asam elagat. Kandungan inilah yang membuat tanaman ini berpotensi dimanfaatkan untuk kesehatan, meski sebagian besar masih berdasarkan penggunaan tradisional dan penelitian awal.
Dikutip dari alodokter, beberapa manfaat tanaman patah tulang yang dikenal antara lain:
1. Membantu meredakan nyeri rematik
Sejak lama, tanaman patah tulang digunakan secara tradisional untuk membantu meredakan nyeri dan peradangan akibat rematik. Kandungan senyawa antiperadangan di dalamnya diduga berperan dalam mengurangi rasa nyeri pada sendi.
2. Berpotensi mencegah karies gigi
Senyawa flavonoid, tanin, dan saponin pada tanaman patah tulang memiliki sifat antibakteri. Kandungan ini dipercaya dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri di rongga mulut yang berperan dalam terjadinya karies gigi.
3. Membantu mengatasi jerawat
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman patah tulang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, seperti Propionibacterium acnes. Oleh karena itu, tanaman ini mulai dimanfaatkan sebagai bahan dalam produk perawatan kulit tertentu.
4. Meredakan batuk
Dalam pengobatan tradisional, tanaman patah tulang kerap digunakan untuk membantu meredakan batuk. Kandungan saponin di dalamnya diyakini memiliki efek ekspektoran yang dapat membantu mengencerkan dahak.
5. Mendukung daya tahan tubuh
Kandungan antioksidan dan antiperadangan pada tanaman patah tulang berpotensi membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan imunitas yang terjaga, tubuh lebih mampu melawan infeksi ringan, seperti flu dan batuk.
6. Membantu mengatasi infeksi kulit ringan
Sifat antimikroba pada tanaman patah tulang dipercaya dapat membantu menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri penyebab infeksi kulit. Namun, penggunaannya tidak dianjurkan sebagai pengobatan utama tanpa pengawasan tenaga medis.
Meski memiliki potensi manfaat, tanaman patah tulang juga mengandung senyawa yang bersifat toksik. Getah putihnya dapat menyebabkan iritasi, gatal, kemerahan, bahkan luka bakar ringan pada kulit. Jika mengenai mata, getah ini dapat menimbulkan iritasi serius dan berisiko mengganggu penglihatan.
Oleh karena itu, penggunaan tanaman patah tulang harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Hindari kontak langsung dengan getahnya dan segera bilas dengan air bersih jika terkena kulit atau mata. Untuk konsumsi atau penggunaan sebagai obat herbal, sebaiknya pilih produk yang telah terdaftar dan memiliki izin edar dari BPOM.
Tanaman patah tulang tidak dianjurkan digunakan secara sembarangan atau sebagai pengganti pengobatan medis. Jika memiliki keluhan kesehatan tertentu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum memanfaatkan tanaman ini sebagai obat tradisional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....