Barang “Nanti” Bikin Rumah Penuh

  • 29 Agt 2026 20:36 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - “Nanti akan dipakai" kalimat sederhana tersebut sering menjadi alasan sebuah barang bertahan bertahun-tahun di rumah. Peralatan yang hanya digunakan sekali, barang yang disimpan untuk suatu hari nanti, hingga benda yang sudah tidak sesuai dengan kehidupan saat ini dapat terus memenuhi ruang meskipun jarang disentuh.

Pendekatan decluttering Jepang mengajak seseorang melihat kembali hubungan dengan barang, termasuk apakah benda tersebut masih sesuai dengan kehidupan yang sedang dijalani:

1. Peralatan yang Hanya Digunakan Sekali

Ada peralatan yang dibeli untuk satu kebutuhan khusus. Setelah digunakan, benda tersebut masuk ke gudang atau lemari dan tidak pernah disentuh lagi.

Jika kemungkinan penggunaannya kembali sangat kecil, barang tersebut bisa dipertimbangkan untuk dipinjamkan, dijual, disumbangkan, atau diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan.

2. Barang untuk “Suatu Hari Nanti”

“Kalau nanti perlu bagaimana?” Pertanyaan tersebut membuat banyak barang tetap tinggal di rumah. Masalahnya, “nanti” terkadang tidak pernah datang.

Jika sebuah barang sudah bertahun-tahun tidak digunakan, pemilik rumah dapat mengevaluasi kemungkinan penggunaannya secara realistis.

3. Barang yang Tidak Lagi Sesuai dengan Kehidupan

Kehidupan seseorang berubah, pekerjaan berubah, hobi berubah, kebutuhan keluarga berubah, bahkan gaya berpakaian dan aktivitas sehari-hari juga dapat berubah. Barang yang dulu penting belum tentu masih relevan sekarang. Karena itu, decluttering dapat dilakukan secara berkala dengan melihat kondisi kehidupan saat ini.

Penelitian National Institute for Environmental Studies Jepang menunjukkan bahwa peneliti memang sedang mengkaji apakah pengalaman merapikan rumah dapat memengaruhi cara seseorang memandang barang dan perilaku konsumsi setelahnya. Kajian tersebut juga memasukkan aspek berbagi barang dan penggunaan layanan seperti aplikasi jual-beli barang bekas sebagai bagian dari perubahan pola kepemilikan.

Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam Health & Social Care in the Community menunjukkan bahwa program edukasi dan bantuan profesional dalam mengorganisasi rumah dapat membantu memperbaiki kondisi ruang hidup peserta yang mengalami kesulitan decluttering.

Namun, prinsip minimalisme bukan berarti semua barang harus segera dibuang. Barang yang memang dibutuhkan tetap memiliki tempat. Yang perlu dikurangi adalah kebiasaan menyimpan sesuatu hanya karena takut suatu saat membutuhkannya.

Pada akhirnya, rumah bukan gudang untuk seluruh kemungkinan masa depan. Rumah adalah ruang untuk menjalani kehidupan saat ini. Karena itu, sebelum menyimpan kembali sebuah barang, coba tanyakan tiga hal:

Apakah saya menggunakannya?

Apakah saya membutuhkannya?

Apakah barang ini masih sesuai dengan kehidupan saya sekarang?

Jika jawabannya terus-menerus tidak, mungkin sudah waktunya memberikan ruang bagi sesuatu yang lebih penting. Decluttering bukan tentang memiliki rumah kosong. Ini tentang membuat ruang untuk kehidupan yang benar-benar sedang kita jalani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....