Penyebab Barang Sulit Dibuang

  • 29 Agt 2026 20:42 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Ada barang yang sudah tidak digunakan, tetapi tetap disimpan. Bukan karena masih diperlukan, melainkan karena memiliki kenangan, diberikan oleh seseorang, atau terasa “sayang” jika dibuang.

Inilah bagian tersulit dalam proses decluttering. Masalahnya bukan lagi soal fungsi barang, tetapi hubungan emosional antara pemilik dan benda tersebut.

Kajian Fabio Gygi dalam Japanese Studies membahas praktik Danshari dan KonMari di Jepang dengan melihat bagaimana benda memiliki keterikatan emosional bagi pemiliknya. Menurut kajian tersebut, proses decluttering dapat memperlihatkan hubungan yang kompleks antara manusia, benda sehari-hari, dan cara seseorang membentuk kehidupan pribadinya.

Karena itu, beberapa jenis barang berikut biasanya membutuhkan pertimbangan lebih panjang, seperti:

1. Kertas dan Dokumen yang Tidak Diperlukan

Kertas lama sering disimpan karena pemilik khawatir suatu hari akan membutuhkannya. Padahal, sebagian hanya berupa brosur, nota, katalog, kemasan, atau dokumen yang sudah tidak memiliki fungsi. Dokumen penting tentu harus disimpan. Namun kertas yang tidak memiliki nilai administratif atau informasi dapat dipilah.

2. Dekorasi yang Hanya Mengumpulkan Debu

Dekorasi membuat rumah lebih personal. Tetapi semakin banyak benda yang dipajang, semakin banyak pula yang harus dibersihkan. Pertanyaannya bukan “apakah dekorasi ini bagus?”, tetapi “apakah saya masih menyukai dan membutuhkan benda ini?”

3. Hadiah yang Tidak Pernah Digunakan

Membuang hadiah terkadang terasa seperti tidak menghargai orang yang memberikannya, namun menyimpan sesuatu hanya karena merasa bersalah juga dapat membuat rumah dipenuhi barang yang sebenarnya tidak pernah digunakan. Hadiah yang memiliki nilai sentimental bisa dipertahankan. Sementara barang yang tidak digunakan dan tidak memiliki makna khusus dapat dipertimbangkan untuk diberikan kepada orang lain.

4. Barang yang Disimpan karena “Sayang Dibuang”

Ini mungkin menjadi alasan paling sulit, barang tersebut masih bagus, masih bisa digunakan, tetapi tidak pernah digunakan. Dalam situasi seperti ini, pemilik rumah dapat mencoba pertanyaan sederhana “Kalau barang ini hilang hari ini, apakah saya benar-benar akan mencarinya?” Jika jawabannya tidak, mungkin benda tersebut memang sudah tidak memiliki peran penting.

Penelitian NIES Jepang juga menaruh perhatian pada hubungan antara aktivitas merapikan, nilai terhadap barang, dan perilaku konsumsi. Peneliti ingin melihat apakah pengalaman merapikan dapat berkaitan dengan perubahan cara seseorang memandang kepemilikan serta keputusan membeli barang baru. Karena itu, decluttering bukan hanya pekerjaan fisik.

Seseorang harus memutuskan apakah kenangan harus selalu disimpan dalam bentuk benda atau bisa tetap dikenang tanpa mempertahankan semua barangnya. Minimalisme tidak berarti menghilangkan kenangan. Justru yang dipertahankan adalah benda yang benar-benar memiliki makna, sementara barang yang hanya menjadi beban ruang dapat dilepaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....