UMKM Teluk Papal Punya Potensi, dari Roti hingga Madu Hutan
- 29 Sep 2026 10:42 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Desa Teluk Papal, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, memiliki sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui produk unggulan berbasis potensi lokal.
Potensi tersebut terungkap melalui program pemetaan kondisi UMKM yang dilakukan Tim Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) Kecamatan Bengkalis, Tim Binar Bengkalis, melalui observasi dan wawancara langsung dengan para pelaku usaha.
Kegiatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi profil pelaku usaha, jenis produk, proses produksi, strategi pemasaran, hingga berbagai kendala yang dihadapi UMKM di Desa Teluk Papal.
Tim KKN-PPM UGM Binar Bengkalis 2026, Farhani Diah Novrilla, mengatakan pemetaan tersebut menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan pengembangan UMKM di desa.Hasil pemetaan diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi maupun program pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
"Melalui pemetaan ini, kami ingin mengetahui potensi yang dimiliki masing-masing UMKM, sekaligus melihat tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan usaha," demikian substansi yang disampaikan Farhani dalam kegiatan pemetaan tersebut, Selasa, 29 September 2026.
Dari hasil observasi, terdapat sejumlah UMKM yang telah berkembang dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Desa Teluk Papal. Di antaranya Roti Three Putri Jaya, usaha madu hutan milik Jamil, produksi tempe, serta Kerupuk Bawang Bik Sari.
"Roti Three Putri Jaya, misalnya, memproduksi berbagai jenis roti secara rumahan. Usaha tersebut mengandalkan tenaga kerja keluarga dengan mengutamakan cita rasa, kualitas dan harga yang terjangkau. Produk roti tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Teluk Papal, tetapi juga memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas ke wilayah sekitar Kecamatan Bantan," katanya.
Namun, pemasaran masih lebih banyak dilakukan secara langsung sehingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dinilai masih dapat ditingkatkan.
Sementara itu, usaha madu hutan milik Jamil menjadi salah satu produk unggulan yang memiliki potensi cukup besar. Usaha tersebut telah dijalankan sejak 2013 dan menghasilkan madu alami yang dipanen setahun sekali.
Panen biasanya berlangsung pada musim bunga, sekitar Februari hingga pertengahan Mei. Dalam satu kali panen, produksi dapat mencapai sekitar 300 hingga 400 botol madu berukuran 480 mililiter. Madu tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp120 ribu per botol. Selain melalui pemesanan langsung, pemasaran juga terbantu oleh sejumlah pegawai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Kabupaten Bengkalis yang membeli langsung dari produsen untuk kemudian memasarkannya secara daring.
Kondisi tersebut menunjukkan produk madu hutan Teluk Papal telah memiliki kepercayaan dari konsumen. Ke depan, pengembangan desain kemasan, identitas merek dan pemanfaatan media sosial dinilai dapat memperluas jangkauan pasarnya.
Selanjutnya, terdapat usaha produksi tempe yang telah berjalan sejak 2019. Dalam sehari, usaha ini mampu memproduksi sekitar 180 bungkus tempe untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.
Menurutnya bahan baku kedelai diperoleh dari pemasok lokal sehingga proses produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Selain tempe segar, pelaku usaha juga sesekali mengolah tempe menjadi keripik sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk.
"Dalam satu kali produksi, modal yang dikeluarkan sekitar Rp600 ribu, sementara keuntungan dapat mencapai sekitar Rp700 ribu. Dari satu karung kedelai, omzet penjualan disebut dapat mencapai sekitar Rp1,3 juta," ucapnya.
Produk tempe tersebut dipasarkan melalui sejumlah kedai di sekitar Desa Teluk Papal. Kendala yang dihadapi pelaku usaha antara lain keterbatasan waktu dalam mengelola usaha karena harus membagi perhatian dengan keluarga.
Sementara itu, Kerupuk Bawang Bik Sari menghadirkan produk camilan dengan cita rasa gurih dan renyah. Kerupuk diproduksi menggunakan bahan yang berkualitas dan melalui proses pengolahan yang memperhatikan kebersihan.
Pemasarannya saat ini masih dilakukan di sekitar Desa Teluk Papal serta kepada konsumen yang datang langsung ke tempat produksi.
Tim KKN-PPM UGM Binar Bengkalis menilai produk kerupuk bawang tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pembaruan desain kemasan dan pemanfaatan media digital.
Secara umum, hasil pemetaan menunjukkan UMKM Desa Teluk Papal memiliki produk yang cukup beragam dan berbasis potensi serta keterampilan masyarakat setempat. Namun, sejumlah tantangan masih perlu mendapat perhatian, terutama terkait keterbatasan pemasaran, kemasan produk, pemanfaatan teknologi digital dan ketersediaan sumber daya manusia.
Farhani menyebutkan, pemetaan UMKM tidak hanya menghasilkan gambaran mengenai kondisi usaha masyarakat, tetapi juga menjadi dasar untuk melihat peluang pengembangan yang dapat dilakukan ke depan.
"Dengan pendampingan yang sesuai kebutuhan, UMKM di Desa Teluk Papal diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas pemasaran dan mengembangkan produk unggulan desa sehingga memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian serta kesejahteraan masyarakat," harapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....