Ahli Gizi SPPG Pastikan Bahan MBG Layak Konsumsi sebelum Disajikan
- 08 Agt 2026 10:41 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melaksanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib memastikan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat memenuhi standar keamanan dan kecukupan gizi.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan melibatkan tenaga ahli gizi. Mereka bertugas melakukan pengawasan mulai dari penerimaan bahan baku, proses pengolahan, makanan yang telah matang, hingga proses pendistribusian kepada para pelajar penerima manfaat.
Ahli Gizi SPPG Bengkalis Kelapa Pati, Yumba Lestari, saat ditemui RRI, mengatakan setiap bahan makanan yang masuk ke dapur SPPG langsung diperiksa, baik bahan dalam kondisi mentah maupun setelah diolah menjadi makanan.
“Untuk bahan-bahan yang masuk, kami langsung melakukan pemeriksaan atau pengecekan, baik bahan baku dalam kondisi mentah maupun yang sudah dimasak,” ujar Yumba Sabtu 8 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, tugas ahli gizi tidak hanya melakukan pemeriksaan bahan makanan, tetapi juga menyusun menu serta memastikan seluruh proses pengolahan makanan berjalan sesuai ketentuan.
“Yang pertama kami membuat menu, kemudian memastikan proses bahan baku dan melakukan kontrol terhadap hasil yang sudah dimasak, termasuk pengecekan suhu hingga proses pendistribusian,” jelasnya.
Menurut Yumba, pemeriksaan dilakukan sejak bahan makanan tiba dari pemasok. Apabila ditemukan buah atau sayuran yang sudah busuk, bahan tersebut langsung dipisahkan dan tidak digunakan.
Begitu juga dengan bahan seperti ayam yang diterima dari pemasok. Jika dinilai tidak layak, bahan tersebut akan dikembalikan.
Sementara bahan yang memenuhi standar akan ditempatkan di ruang penyimpanan sesuai jenisnya, termasuk penyimpanan dalam kondisi dingin dengan suhu yang telah ditentukan.
“Kalau terdapat buah yang busuk atau sayur-mayur yang busuk, maka akan kami sortir dan dibuang. Termasuk ayam yang dibeli dari supplier, apabila tidak layak maka akan dikembalikan,” katanya.
Yumba menambahkan, selama menjalankan tugas di SPPG Bengkalis Kelapa Pati, pihaknya belum menemukan bahan makanan yang tidak layak konsumsi. Hal itu, menurutnya, tidak terlepas dari pemeriksaan yang dilakukan secara rutin.
Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Bengkalis Kota 3, Tiara Sulistiawati, mengatakan pemeriksaan terhadap bahan makanan juga menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat dalam kondisi aman dan layak dikonsumsi.

“Untuk memastikan kondisi bahan makanan, baik yang masih mentah maupun yang sudah dimasak, dalam kondisi baik dan layak untuk dikonsumsi, kami sebagai ahli gizi melakukan pengecekan terlebih dahulu,” kata Tiara.
Ia menjelaskan, dalam penyusunan menu, pihaknya memastikan makanan yang diberikan dalam satu ompreng atau paket makanan mengandung gizi yang dibutuhkan oleh penerima manfaat.
“Dalam satu ompreng tersebut, kami mengutamakan dan memastikan kelengkapan gizi yang dibutuhkan oleh pemanfaat. Kami selalu mengikuti arahan dari pusat agar kebutuhan gizi pemanfaat sesuai dengan yang sudah diatur untuk kesehatan,” jelasnya.
Selain memastikan kandungan gizi, Tiara mengatakan setiap bahan makanan yang datang juga diperiksa kesesuaiannya dengan pesanan serta kualitasnya. Bahan yang rusak atau tidak layak konsumsi akan disortir dan dipisahkan.
“Setiap barang yang masuk selalu kami kontrol, apakah sudah sesuai dengan yang dipesan atau belum. Kami juga melakukan pengecekan dari segi kualitas. Kalau bahan tersebut busuk atau mengalami kerusakan, kami sortir setiap hari dan yang tidak layak dikonsumsi akan disingkirkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan buah pisang yang terkadang diterima pada sore hari. Kondisi buah tersebut kembali diperiksa pada pagi hari sebelum digunakan. Apabila ditemukan pisang yang sudah rusak, maka tidak akan diberikan kepada penerima manfaat.
“Misalnya buah pisang biasanya datang pada sore hari. Menjelang pagi bisa saja ada yang rusak. Kalau sudah rusak, tentu tidak akan diberikan kepada pemanfaat,” katanya.
Terkait penggunaan minyak goreng, Tiara mengatakan tidak terdapat ketentuan khusus mengenai berapa kali minyak dapat digunakan kembali. Namun, kondisi minyak menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum digunakan.
“Dari BGN tidak ditentukan berapa kali penggunaannya, tetapi kami melihat kondisi minyak tersebut. Kalau menggoreng menggunakan bahan tepung, biasanya minyak akan lebih cepat berubah, sehingga tidak kami gunakan kembali,” jelasnya.
Sebaliknya, untuk pengolahan bahan makanan yang tidak membuat minyak cepat berubah warna atau kualitasnya menurun, minyak masih dapat digunakan kembali selama kondisinya masih memenuhi standar.
“Kalau menggunakan bumbu yang tidak menghitamkan minyak, seperti menggoreng telur dan lainnya, itu masih bisa digunakan dan diperbolehkan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....