Perang dan Pesan Hidup

  • 11 Jun 2026 20:06 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Film-film seperti Hacksaw Ridge, Saving Private Ryan, dan Band of Brothers telah menyita perhatian jutaan penonton di seluruh dunia. Di balik karya-karya besar itu, ada nama-nama seperti Mel Gibson, Steven Spielberg, dan Tom Hank—yang menghadirkan kisah tentang Perang Dunia II dengan begitu nyata dan menggugah.

Aku sendiri adalah penikmat film perang bernuansa sejarah. Bukan hanya karena adegan pertempurannya yang epik, tetapi karena ada sisi lain yang selalu menyentuh hati. Sebuah momen yang hampir selalu muncul di setiap film bergenre ini.

Saat suasana mencekam. Saat peluru siap beterbangan. Saat kematian terasa begitu dekat. Para prajurit… mulai berbicara. Mereka bercerita tentang hidupnya. Tentang keluarga yang ditinggalkan. Tentang masa lalu yang dilalui. Dan mimpi-mimpi yang belum sempat terwujud.

Di titik itu, sesuatu berubah. Suasana menjadi hening… dan tiba-tiba terasa sangat spiritual. Mereka yang sebelumnya mungkin jauh dari Tuhan, mulai berdoa. Mereka yang jarang mengingat-Nya, tiba-tiba ingin mendekat.

Seolah-olah hati mereka berbisik:

“Jika ini adalah akhir… aku ingin kembali pada-Nya.”

Dan memang, begitulah fitrah manusia. Kesadaran tentang hidup sering kali justru muncul ketika kita berhadapan dengan kemungkinan kematian.

Itulah sebabnya, orang yang pertama kali naik pesawat, seringkali berdoa lebih panjang. Ada rasa cemas yang menyelinap:

“Bagaimana jika terjadi sesuatu?”

Padahal secara fakta, pesawat termasuk salah satu alat transportasi paling aman. Namun rasa takut itu… membangunkan kesadaran.

Berbeda dengan perjalanan darat atau laut yang sering dianggap lebih “biasa”. Doa menjadi lebih singkat. Bahkan kadang terlupa. Karena merasa aman… padahal risiko tetap ada.

Dari sini kita belajar satu hal: manusia sering kali baru mengingat Tuhan ketika merasa tidak berdaya. Padahal seharusnya, dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam aman maupun terancam, kita tetap dekat kepada-Nya.

Inilah hikmah mengapa para ulama menganjurkan kita untuk sesekali mengingat kematian. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan.

Agar kita tidak terlena oleh kehidupan, dan tidak menunda untuk kembali kepada Allah. Karena pada akhirnya, bukan soal kapan kematian itu datang, tetapi… sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Oleh: La Ode Mu’jizat, S.Kep., Ns.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....