NABI YUSUF: Keteguhan Hati di Jalan yang Lurus

  • 06 Jun 2026 15:08 WIB
  •  Baubau

Oleh: La Ode Mu’jizat, S.Kep., Ns.

RRI.CO.ID, Baubau - Ternyata, diantara kisah terbaik dalam Al-Qur’an adalah kisah tentang seorang pemuda dengan nasab yang begitu mulia. Dialah Nabi Yusuf—putra Nabi Ya'qub, cucu Nabi Ishaq, dan cicit Nabi Ibrahim.

Ia dikenal bukan hanya karena ketampanan wajahnya, tetapi juga karena keindahan akhlaknya. Hidupnya bukanlah kisah yang lurus tanpa ujian. Justru sebaliknya—penuh liku, warna, dan ujian yang silih berganti.

Ia dicintai oleh ayahnya, namun dibenci oleh saudara-saudaranya. Ia dilempar ke dalam sumur, lalu ditemukan oleh kafilah yang lewat, kemudian dijual sebagai budak.

Ia hidup di istana, namun harus menghadapi godaan dari wanita bangsawan yang terpikat oleh ketampanannya. Ia difitnah. Ia disudutkan. Ia bahkan dipenjara—bukan karena bersalah, tetapi karena memilih menjaga kehormatan dirinya.

Di dalam penjara, ia tidak larut dalam kesedihan. Ia berdakwah. Ia memberi makna pada setiap keadaan. Ketika keluar, ia tidak menuntut balas. Ia justru diangkat menjadi pejabat yang mengelola negeri dengan amanah.

Dan ketika akhirnya bertemu kembali dengan saudara-saudaranya--orang-orang yang dahulu menyakitinya—ia memilih untuk memaafkan. Tidak ada dendam. Tidak ada amarah. Hanya kelapangan hati… dan keikhlasan yang begitu dalam. Semua itu bermula dari sebuah mimpi di masa kecil—yang pada akhirnya Allah jadikan nyata di masa dewasa.

Sebagaimana disampaikan oleh Salim A. Fillah dalam bukunya yang berjudul 'Lapis-lapis Keberkahan', kisah terbaik dalam Al-Qur’an ini bukan sekadar tentang peristiwa yang indah, melainkan tentang perjalanan hidup yang penuh ujian.

Namun yang menjadikannya luar biasa adalah satu hal: dalam setiap keadaan, Nabi Yusuf selalu mampu “mengemudikan” hatinya tetap berada di jalan yang lurus.

Di saat diuji dengan kesedihan—ia bersabar. Di saat diuji dengan godaan—ia menjaga diri. Di saat diuji dengan kekuasaan—ia tetap amanah. Dan di saat diberi kesempatan membalas—ia memilih memaafkan.

Inilah pelajaran besar bagi kita. Bahwa hidup mungkin tidak selalu mudah. Jalan yang kita tempuh bisa penuh luka dan air mata. Namun yang terpenting bukanlah apa yang terjadi pada kita, melainkan bagaimana kita menjaga hati tetap lurus di hadapan Allah.

Sebab pada akhirnya, bukan keadaan yang menentukan kemuliaan seseorang—melainkan bagaimana ia bersikap dalam setiap keadaan itu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....