Prevalensi Stunting Masih Tinggi, Pemkot Baubau Butuh Kerja Ekstra
- 16 Apr 2026 20:28 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Pemerintah Kota Baubau masih harus bekerja ekstra untuk menurunkan angka stunting. Pasalnya, angka prevalensi stunting di daerah ini masih terbilang tinggi, yakni mencapai 29,8 persen.
Secara nasional, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14,4 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045. Sementara itu, Pemerintah Kota Baubau menetapkan target 24,2 persen pada 2026 dan 14,2 persen pada 2030.
Artinya, dalam waktu kurang dari satu tahun, diperlukan penurunan signifikan sekitar 5 persen untuk mencapai target tahun 2026. Menurut Hamsinah, stunting bukan hanya sekadar persoalan kesehatan, melainkan indikator kualitas pembangunan dan peradaban.
Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu saat membuka Rapat Koordinasi Aksi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Kantor Bapperida Kota Baubau, Kamis, 16 April 2026 menegaskan percepatan penurunan stunting sebagai prioritas utama pembangunan daerah.
“Kita bisa bicara pembangunan ekonomi dan sektor lain, tetapi ukuran paling mendasar adalah bagaimana angka stunting kita. Ini menyangkut hak dasar setiap anak untuk lahir dan tumbuh sehat,” ujarnya.

Hamsinah Bolu kembali mengingatkan kondisi stunting berawal sejak masa kehamilan akibat kekurangan gizi kronis dan berdampak jangka panjang, termasuk pada perkembangan otak anak yang bersifat sulit diperbaiki.
"Karena itu, edukasi kepada masyarakat, khususnya ibu hamil dan calon orang tua, harus diperkuat dan tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan," imbuhnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya akurasi data sebagai dasar pengambilan kebijakan, serta mendorong penguatan empat aksi konvergensi utama, mulai dari analisis situasi, perencanaan, pelaksanaan, hingga monitoring dan evaluasi yang didukung regulasi dan publikasi.
“Efisiensi tidak boleh menurunkan kinerja. Justru kita harus lebih cerdas, tepat sasaran, dan fokus pada hasil,” ujarnya.
Wawali juga menekankan peran kecamatan dan kelurahan sebagai garda terdepan dalam memastikan setiap intervensi menyentuh langsung kelompok sasaran, serta pentingnya dukungan penuh terhadap tenaga kesehatan di lapangan.
“Penanganan stunting tidak bisa parsial. Ini kerja bersama lintas sektor. Edukasi, intervensi gizi, hingga perubahan perilaku harus berjalan beriringan,” tegasnya.
Menutup arahannya, Wa Ode Hamsinah mengajak seluruh pihak membangun gerakan bersama dalam percepatan penurunan stunting melalui sinergi lintas sektor dan kerja nyata di masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....