Sosialisasi TBC Anak di Baubau, Dorong Sinergi Tuntaskan Tuberkulosis

  • 01 Apr 2026 15:05 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau – Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Dinas Kesehatan Kota Baubau menggelar sosialisasi Tuberkulosis (TBC) anak dengan mengusung tema “Yes! We Can End TB”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Baubau, Rabu 1 April 2026.

Sosialisasi menghadirkan narasumber dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, yakni dr. Yuniaty Arief dan dr. Erni Murdaningsih. Keduanya merupakan dokter spesialis anak yang aktif menangani kasus TBC di Kota Baubau.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah unsur penting, di antaranya Pengurus TP-PKK Kota Baubau, Dharma Wanita Persatuan Baubau, Pokja Bunda PAUD, serta jajaran TP-PKK tingkat kecamatan dan kelurahan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, Frederik Tangke Allo, dalam sambutannya menegaskan a kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah, PKK, dan organisasi profesi kesehatan.

Ia menyebut, langkah ini sejalan dengan program prioritas nasional dalam menurunkan kasus TBC hingga 50 persen dalam lima tahun, serta mendukung pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing global.

“Tema global Yes! We Can End TB – Led by Country, Powered by Community menegaskan penanganan TBC membutuhkan kerja bersama semua pihak,” ujarnya.

Plt Kadis Kesehatan membeberkan fakta berdasarkan laporan global, Indonesia saat ini menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TBC tertinggi di dunia, dengan lebih dari satu juta kasus setiap tahun. Bahkan, lebih dari 17 orang meninggal setiap jam akibat penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan ini.

Sebagai upaya konkret, pemerintah mendorong sinergi aksi melalui kampanye masif yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga pemuda untuk meningkatkan deteksi dini dan menghapus diskriminasi terhadap pasien TBC.

Disisi lain, dalam pemaparan materi, dr. Yuniaty Arief menjelaskan TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan sekitar 11 persen kasus di Indonesia terjadi pada anak-anak. Penularan terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Gejala pada anak antara lain batuk lama, demam berkepanjangan, berat badan tidak naik, lemas, dan keringat malam.

“Diagnosis dilakukan melalui tes tuberkulin, pemeriksaan dahak, dan rontgen dada. Selain pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT), saat ini juga tersedia terapi pencegahan bagi kontak erat pasien,”jelasnya.

Menurutnya, TBC merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Namun tanpa pengobatan, tingkat kematian bisa mencapai 50 persen. Dengan pengobatan sesuai standar World Health Organization selama 4–6 bulan, sekitar 90 persen pasien dapat sembuh. Karena itu, setiap pasien wajib didampingi Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk memastikan pengobatan berjalan tuntas.

Ia mengingatkan kepada masyarakat bahwa pengobatan TBC tersedia secara gratis di seluruh fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit.

“Dengan semangat Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS TB), pemerintah berharap upaya bersama ini mampu memutus rantai penularan dan mewujudkan Indonesia bebas TBC,”tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....