Koordinasi P2P Dinkes Baubau Tekan TBC dan HIV/AIDS

  • 12 Feb 2026 15:14 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Dinas Kesehatan Kota Baubau menggelar pertemuan strategis bertajuk “Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan serta Pengendalian Penyakit (P2P) Tingkat Kota Baubau” di Hotel Zenith Premiere, Kamis 12 Februari 2026.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr. Frederik Tangke Allo, dan diikuti peserta dari 17 UPTD Puskesmas se-Kota Baubau, RSUD Kota Baubau, RS Siloam, serta RS Faga Husada.

Dalam sambutannya, dr. Frederik menegaskan Indonesia saat ini berada pada fase transisi krusial memasuki periode Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029. Tantangan pembangunan kesehatan, menurutnya, masih didominasi beban penyakit menular yang berdampak signifikan terhadap angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).

“Pembangunan kesehatan kita memang semakin inklusif, namun tantangan besar seperti disparitas antarwilayah, capaian program yang di bawah target, serta rendahnya pemahaman masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” ujarnya.

TBC dan HIV/AIDS Jadi Prioritas

Dalam paparannya, dr. Frederik menyoroti dua penyakit menular prioritas nasional, yakni Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS.

Untuk TBC, Indonesia masih menempati posisi kedua dengan beban kasus terbesar di dunia. Permasalahan utama yang dihadapi antara lain tingginya underreporting atau kasus yang tidak terlaporkan, serta rendahnya capaian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) yang baru mencapai 14,5 persen dari target 50 persen pada tahun 2024.

Sementara itu, pada kasus HIV/AIDS, pencapaian target global 95-95-95 pada tahun 2030 masih membutuhkan upaya ekstra. Tantangan yang dihadapi meliputi stigma masyarakat, tingginya angka Loss to Follow Up (pasien putus obat), serta terbatasnya pemahaman pasien terkait pemeriksaan viral load.

Tiga Penekanan Strategis

Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau meminta seluruh fasilitas kesehatan berkomitmen penuh untuk beradaptasi dengan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 tentang Renstra Kemenkes 2025–2029.

Ia menekankan tiga poin utama bagi tenaga kesehatan, pertama memahami indikator baru dengan menyelaraskan target pelayanan sesuai standar lima tahun ke depan, kedua, disiplin dalam input data dengan memastikan pelaporan melalui aplikasi SITB, SIHA, dan ASIK dilakukan secara real-time sebagai bagian dari pelayanan, bukan sekadar beban administrative, terakhir integrasi dan validasi data guna menghasilkan gambaran epidemiologi yang akurat di Kota Baubau.

“Saya sangat mengapresiasi kerja keras rekan-rekan di Puskesmas dan garda terdepan lainnya. Ingatlah bahwa setiap baris data yang Anda masukkan adalah langkah nyata untuk menyelamatkan nyawa di masa depan,” tegasnya.

Menutup arahannya, dr. Frederik berharap kegiatan koordinasi ini dapat melahirkan inovasi dalam pengendalian penyakit serta memperkuat kolaborasi antar-fasilitas kesehatan, baik Puskesmas maupun rumah sakit.

Dengan semangat sinergi tersebut, Kota Baubau optimistis mampu menekan angka prevalensi penyakit menular sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada tahun 2026, sejalan dengan visi “Baubau Kota Budaya yang Ramah, Cerdas, Sejahtera, dan Bermartabat.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....